DetikNews
Minggu 21 April 2019, 14:17 WIB

Kisah Sriyanti, Kartini Pejuang Sanitasi Asal Pacitan

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Kisah Sriyanti, Kartini Pejuang Sanitasi Asal Pacitan Sriyanti (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Persoalan sanitasi menjadi tantangan di wilayah pedesaan Pacitan selama puluhan tahun. Masyarakat terbiasa buang air besar sembarangan. Ancaman penyakit menular pun menjadi momok bagi mereka.

Kondisi itu membuat Sriyanti (48) tergerak. Bersama 6 orang kader kesehatan lain di Kecamatan Donorojo, dia tak pernah berhenti berolah pikir. Mencari solusi untuk mengentaskan problematika turun-temurun tersebut.

"Itu bermula tahun 2008. Saat itu ada program dari Bank Dunia. Saya ikut aktif bersama 6 kader lain di Kecamatan Donorojo ini," ujar Sriyanti ditemui detikcom di rumahnya, Desa Sukodono, Minggu (21/4/2019).

Hari-hari awalnya tak hanya berat namun juga menantang. Perempuan kelahiran Gunungkidul, DIY itu kerap menerobos semak belukar. Terkadang harus bersembunyi di balik rindangnya tanaman hutan. Semua dia lakukan semata untuk mengetahui lokasi buang air warga.


Temuan awal tersebut menjadi pijakan pembuatan pemetaan. Itu sekaligus menjadi pintu pembuka untuk mengurai benang kusut masalah kesehatan di dua desa yang dia tangani. Yakni Desa Gedompol dan Cemeng.

Penelusuran pun berlanjut ke pemukiman. Satu per satu rumah didatanginya. Tiap bertemu warga Sriyanti hanya melempar satu pertanyaan yang sama. 'Apakah di rumah ini ada WC-nya?' Ternyata faktanya sangat miris. Sebagian besar pemilih rumah menjawab 'Tidak'.

"Mungkin hampir 90 persen tidak punya WC," tuturnya berkaca-kaca.

Lalu, dimana masyarakat membuang hajat? Rupanya, hutan menjadi tempat andalan untuk buang air besar. Tentu saja, kondisi ini sangat buruk bagi kesehatan. Masyarakat rentan terpapar beragam penyakit yang dibawa vektor. Mulai diare, typhus, polio, serta penyakit-penyakit menular lainnya.

"Kami menyebutnya Penung (dipepe neng gunung/dijemur di gunung). Ngeri sekali kalau ingat ancaman penyakit yang bisa menjangkiti warga," imbuhnya.


Sriyanti menuturkan awalnya tak mudah meyakinkan warga akan pentingnya memiliki WC. Apalagi untuk membangun sebuah jamban permanen butuh biaya tidak sedikit. Belum lagi sebagian warga menolak jika harus membangun WC secara swadaya.

Saat kritis seperti itu, istri dari Harun Supadmo (59) tersebut tak patah arang. Dia pun berdiskusi dengan para tokoh masyarakat. Perbincangan itu menawarkan kerja bakti bergantian sebagai solusi membangun WC. Adapun dananya diperoleh melalui arisan.

Perjuangan Sriyanti dan rekan-rekannya menorehkan catatan gemilang. Bersamaan upaya serius pemkab setempat, sejak tahun 2010 tiga kecamatan wilayah barat ditetapkan menjadi wilayah terbebas dari buang air besar sembarangan atau ODF (open dafication free). Yakni Donorojo, Punung, dan Pringkuku.

"Alhamdulillah. Sekarang ndak ada lagi rumah tanpa WC. Tugas kita berikutnya adalah menjaga dan mempertahankan kebiasaan baik yang sudah dicapai," ucapnya penuh harap.


Simak Juga Saat Onthelis Pria Rayakan Hari Kartini di Car Free Day:

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed