Begini Cara Warga Lamongan Agar Batik Tradisional Tetap Terjaga

Eko Sudjarwo - detikNews
Senin, 26 Nov 2018 09:30 WIB
Sifwatir Rif'ah berkacama mata/Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Menulis adalah memahat peradaban. Pepatah ini yang mungkin cocok dengan apa yang dilakukan oleh seorang pelaku batik di Lamongan. Perempuan ini mencoba menuangkan lekuk sejarah batik Lamongan ke dalam sebuah buku.

Minimnya referensi tertulis tentang warisan batik tradisional asli Lamongan menimbulkan kekhawatiran pada sosok perempuan usia 30 tahun ini. Sifwatir Rif'ah, khawatir jejak-jejak peradaban tentang batik Lamongan yang adiluhung itu tidak terwariskan kepada generasi yang akan datang. Kesadaran itulah yang mendorong Sifwa menulis buku berjudul "Batik Lamongan, Jejak Ekonomi Kreatif Warisan Sunan Sendang".

"Melihat kekosongan atau minimnya referensi tentang batik Lamongan, saya pikir perlu untuk menuangkan dalam bentuk tulisan biar dikenal lebih luas," kata Sifwa saat berbincang-bincang dengan wartawan, Senin (26/11/2018).

Apalagi, perempuan yang juga pelaku batik Lamongan ini mengaku dirinya dibesarkan di lingkungan yang kental dengan dunia batik. Sehingga makin membuatnya termotivasi untuk menyelesaikan buku tersebut.

"Saya merasa terpanggil untuk menulis buku tentang batik Lamongan, karena memang dari kecil saya dibesarkan orang tua tak jauh dari dunia batik," tuturnya.

Sifwa menjelaskan, dalam buku yang diselesaikan dalam waktu kurang lebih 6 bulan berisi sejarah batik Lamongan. Mulai dari asal usul, ragam batik, hingga berbagai prestasi yang telah diraih batik Lamongan.

"Tulisan saya merupakan kompilasi dari tulisan almarhum bapak yang dulu pernah ditulis beliau dalam tulisan sederhana yang disediakan mahasiswa untuk penelitiannya. Kemudian saya sempurnakan dengan hasil riset di sekitar komplek pemakaman Sunan Sendang," ucap wanita yang juga dosen di Fakultas Ekonomi dna Bisnis Islam IAI Tabah, Kranji Paciran ini.

Wanita yang tinggal di Desa Sendang, Kecamatan Paciran, ini mengaku, buku Batik Lamongan karyanya mendapat respon yang cukup positif dari masyarakat. Hal itu terlihat dari jumlah buku yang telah terjual. "Sudah dicetak 150-an, baru seminggu sudah terdistribusi 50 persen," tuturnya.

Dia menjelaskan selain terjual secara umum, buku tersebut kini juga telah menjadi koleksi perpustakaan Kabupaten Lamongan dan Perpustakaan Nasional. "Sudah ada di perpustakaan daerah Lamongan dan perpusnas," tambahnya.

Wanita yang mengaplikasikan dirinya membuat batik sendang ini juga pernah mendapat Upakarti dari Presiden RI. Sebab ketekunannya dalam melestarikan batik Lamongan. Kini, selain menekuni dunia akademis, Sifwa juga giat melakukan pelatihan batik Lamongan. (fat/fat)