detikNews
Kamis 02 Agustus 2018, 18:40 WIB

Potensi Ekspor Besar, Ini yang Dibutuhkan Industri Minyak Kelapa Sawit

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Potensi Ekspor Besar, Ini yang Dibutuhkan Industri Minyak Kelapa Sawit Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia sering mendapat stigma buruk lantaran dituding melakukan pembebasan hutan untuk dibuka menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

Namun hal ini dibantah salah satu pelaku industri kelapa sawit. Menurut mereka, perusahaan pengolah kelapa sawit telah dibatasi oleh regulasi ketika membuka lahan baru.

Dijelaskan GM Marketing Sinar Mas Agribusiness and Food Davy Djohan, dari data yang dirilis EU Parliamentary Report, dalam kurun tahun 1965 hingga 2016, pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit hanya mencapai 16,6 juta hektare. Sementara itu, untuk pembukaan lahan kedelai justru mencapai 95,2 juta hektare.

"Ini ada datanya dan bisa dicek. Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dari tahun 1965 yang hanya 3,6 juta hektare menjadi 20,2 juta hektare. Peningkatannya hanya 16,6 juta hektare," ujar Djohan saat Media Baking di Pabrik Sinarmas Agribusiness and Food Rungkut, Surabaya, Kamis (2/8/2018).


Di kesempatan yang sama, Djohan mengatakan potensi minyak kelapa sawit di Indonesia sangat besar. Hal ini karena Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia yaitu mencapai 55 persen, mengingat kelapa sawit hanya tumbuh di negara yang dilewati garis khatulistiwa.

Untuk penggunaannya, minyak kelapa sawit juga paling banyak digunakan daripada minyak-minyak lain, yaitu sebesar 37 persen.

"Indonesia itu penghasil minyak kelapa terbesar di dunia yakni sebesar 55 persen. Penggunaan minyak kelapa sawit di seluruh dunia itu juga paling besar yaitu 37 persen," lanjut Djohan.


Untuk itu, guna menepis stigma masyarakat ini, Djohan mengatakan pihaknya membutuhkan peran pemerintah dan organisasi karena potensi ekspor minyak ini juga luar biasa.

"Potensi pasar ekspornya luar biasa. Perlu bantuan pemerintah dan organisasi karena sering banyak tekanan," kata Djohan.

Untuk PT Sinar Mas sendiri, Djohan mengungkapkan jika pihaknya mengekspor 60 persen, di antaranya produk margarin, cooking oil hingga shortening (mentega putih).

"Ekspornya kita melihat sekarang ekspor branded lebih dari 60 persen untuk produk margarin, cooking oil dan shortening. Terbanyak ada di Cina, yakni seperempat dari itu," tutupnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed