DetikNews
Kamis 08 Maret 2018, 18:53 WIB

Ini Aris, Penyandang Disabilitas yang Ingin Memiliki Kursi Roda

Andhika Dwi - detikNews
Ini Aris, Penyandang Disabilitas yang Ingin Memiliki Kursi Roda Foto: Andhika Dwi
Kediri - Aris Agustinus (19), pemuda di Kabupaten Kediri ini dikenal penyandang disabilitas dan berprestasi. Terbukti, Aris masuk 10 besar baca puisi tingkat provinsi dan Kota Kediri. Namun pemuda asal Dusun petok, Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, ini sehari-harinya hanya berada di rumah dan menonton televisi.

Ya, Aris terpaksa berada di rumah karena tidak memiliki kursi roda. Padahal dirinya berkeinginan keluar rumah secara mandiri sekadar bermain dan menyapa teman-temannya. Dirinya pun hanya bisa pasrah dengan kondisinya.

"Saya ingin punya kursi roda, supaya nggak merepotkan ibu kalau mau sekolah atau pergi kemana-mana," kata Aris kepada detikcom di rumahnya, Kamis (8/3/2018).

Diakui Aris, keluarganya tak mampu membelikan kursi roda yang diinginkan. Saat dirinya lulus SMP, orang tua Aris mengalami kesulitan ekonomi, sehingga membuat dirinya tak lagi bisa melanjutkan sekolah.

Saat itu, ibunya Sri Wahyuni (39) selalu mengantar dan menemani Aris saat sekolah maupun kegiatan sehari-hari dengan menggendongnya. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh Aris semakin besar dan usia ibunya tak lagi muda dan kuat menopang tubuhnya, hingga membuat Aris hanya bisa menghabiskan waktu di rumah dan nonton teve.

"Saya semakin besar. Ibu tidak mampu lagi menggendong saya," tambah Aris yang kini tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya.

Sejak tahun 2015 Aris hanya berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu dengan membaca puisi. Dia pun memiliki impian untuk membahagiakan ibu dan keluarganya. Dirinya ingin memiliki kursi roda agar tidak lagi merepotkan ibunya yang tiap hari selalu menggendongnya.


Aris saat ditemui di rumahnya/Aris saat ditemui di rumahnya/ Foto: Andhika Dwi


Kendati dalam kondisi yang serba terbatas, namun Aris sempat unjuk gigi membacakan puisi berjudul "Polisi" di hadapan anggota Babinsa dan Babinkamtibmas Kecamatan Semen. Dua anggota tersebut sering berkunjung meski hanya sekadar menyapa dan bertukar kabar dengan Aris.

"Aku pengen sekolah lagi, dan bahagiakan banggakan orang tua," tambah Aris.

Sementara Eko Nur dan Wasis, anggota Polsek dan Koramil Semen mengaku sangat mengenal Aris. Dia adalah pemuda tangguh yang dianggap berprestasi.

"Aris ini memang pemuda yang penuh semangat dan gairah, dia selalu mengikuti kabar yang ada saat ini dan memiliki rasa ingin tahu yang besar," Ucap Eko Nur saat bersama detikcom di rumah Aris.

Menurut Sri Wahyuni, ibunda Aris. Dirinya sering merasa iba saat melihat keseharian anak semata wayangnya berjalan dengan dua tangannya. Terlebih lagi, saat ini kondisi Sri sedang hamil muda dan nenek Aris juga sakit. Sehingga keduanya kesulitan harus menggendong dan membawa Aris.

"Neneknya sakit, saya juga sedang hamil dan Aris badannya sudah nggak kecil lagi, saya kesulitan jika harus mengendong," tegas Sri.

Sri pun menceritakan awal Aris kesulitan berjalan. Saat itu Aris lahir dengan kondisi prematur, tepatnya saat berusia 5 bulan 2 minggu. Pada usia 2 tahun, Sri menyadari kondisi Aris berbeda dengan balita pada umumnya, terutama cara berjalan dan merangkak.

Aris pun diperiksakan ke dokter spesialis saraf, namun karena Aris trauma dan ketakutan melihat pakaian putih yang biasa dikenakan perawat, pengobatan dihentikan.

"Iya, dulu Aris ini lahirnya prematur mas," tegas Sri.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed