DetikNews
Jumat 19 Januari 2018, 22:03 WIB

Kriminal

Tersangka Nekat Mengolah Merkuri Untuk Bayar Utang Rp 2 Miliar

Rois Jajeli - detikNews
Tersangka Nekat Mengolah Merkuri Untuk Bayar Utang Rp 2 Miliar Polisi merilis pengungkapan kasus produksi merkuri ilegal (Foto: Rois Jajeli)
Surabaya - Tersangka pengolahan merkuri, Ari S (33) nekat melakukan usaha ilegal karena ingin mendapatkan omset Rp 6 miliar. Hasilnya rencananya untuk membayar utangnya yang sekitar Rp 2 miliar.

"Dia membeli batu sinabar 5 ton. Diolah menjadi 2 ton merkuri dengan harga per liter Rp 3 juta. Kalau diproduksi semua dengan campuran bahan baku tertentu, bisa senilai Rp 6 miliar," ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin saat jumpa pers di mapolda, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jumat (19/1/2018).

Usaha yang dilakoni pria asal Sumobito, Kabupaten Jombang ini sudah dilakukan sekitar dua bulan lalu. Dia membeli batu sinabar seberat 5 ton dari petambang di Pulau Seram, Kabupaten Ambon.

"Beroperasi sekitar dua bulan," ujarnya.

Ari pernah bekerja di Pulau Seram, Ambon. Sehingga tahu seluk-beluk dan pasar yang membutuhkan merkuri.

"Dia pernah bekerja di sana (Pulau Seram). Jadi sudah tahu pasarnya. Merkuri ini rencananya dijual ke Jakarta, Kalimantan dan tempat tambang emas," tuturnya.

"Di sana kan sudah dioperasi oleh Polda Maluku. Makanya dia pindah operasi di Kediri," tambahnya.

Ari mengaku membuka usaha itu karena punya utang Rp 2 miliar. Utang tersebut untuk membuka usaha pengolahan merkuri.

"Untuk bayar utang Rp 2 miliar," kata Ari saat ditanya kapolda.

Machfud menegaskan, merkuri biasanya digunakan untuk penambangan emas maupun kosmetik. Padahal, merkuri ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh maupun lingkungan.

"Waduh, ini sangat berbahaya. Makanya pemerintah melarangnya dan dibuatkan undang-undang yang baru diterbitkan di Tahun 2017," kata Machfud.

Ia menegaskan, akan menindak tegas terhadap produksi pengolahan merkuri di Jawa Timur. Sebelum membongkar pengolahan merkuri di Kediri ini. Polda Jatim sudah membongkar kasus yang sama di Jombang dan Tuban.

"Merkuri biasanya untuk penambangan emas, untuk kosmetik dan macam-macam. Merkuri berbahaya untuk kesehatan dan lingkungan," jelasnya.
(roi/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed