DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 14:56 WIB

Begini Suasana Dhoho Street Fashion, Pagelaran Busana Kain Tenun Ikat

Andhika Dwi - detikNews
Begini Suasana Dhoho Street Fashion, Pagelaran Busana Kain Tenun Ikat Foto: Andhika Dwi
Jakarta - Busana tradisional khas tenun ikat kembali dipamerkan. Kali ini Dhoho Street Fashion Kediri, jadi jujugan lenggak lenggok perempuan yang memakai baju tenun ikat.

Seperti pagelaran busana sebelumnya, acara yang digelar outdoor ini dilakukan di Taman Kota Sekartaji Kota Kediri. Dihadiri Didiet Maulana desainer terkenal spesialis kain tenun ikat Indonesi dan Wali Kota Kediri, acara ini juga diikuti Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi, pelajar dan warga.

"Kami berharap pagelaran busana tenun ini dapat lebih mengenalkan kain tenun ikat dikancah nasional maupun internasional," kata Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar di lokasi, Kamis (14/12/2017).

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Kediri, Fery Silviana Veronika menjelaskan, pagelaran bertema 'Dhoho Street Fashion 3rd Mengikat Kediri, menampilkan busana tenun ikat kasual atau yang bisa dipakai sehari-hari. Padahal biasanya, kain tenun terkesan eksklusif dan hanya untuk dipakai pesta dan formal.

"Untuk tahun ketiga ini Dhoho Street Fashion menampilkan busana tenun ikat dengan gaya busana kasual dan non formal sehingga bisa digunakan kegiatan sehari hari," ucap Veronika kepada detikcom Jalan Veteran Kota Kediri.

Suasana Dhoho Street Fashion di Kediri/Suasana Dhoho Street Fashion di Kediri/ Foto: Andhika Dwi


Dari pantauan detikcom, belasan model berlenggak-lenggok memamerkan baju tenun ikat khas Kota Kediri. Mereka para pelajar SMA di Kota Kediri.

Seorang pengunjung, Anna Rully Hariyanti menjelaskan pameran busana ini selalu unik dan menarik untuk dilihat.

"Kalau fashion show di gedung sudah biasa dan terbatas penontonnya, kalau begini kan lebih dekat dengan masyarakat, seru dan menarik," ujar Anna.

Siti Rukayah, salah satu penggiat tenun ikat di Kota Kediri menyampaikan sejarah singkat tenun ikat Bandar Kidul kepada masyarakat.

Awalnya tenun hanya berupa sarung goyor dengan motif lurik saja. Tapi mulai tahun 70-an motifnya semakin beragam dengan adanya mesin menenun. Namun, hadirnya mesin tenun ini membuat khawatir penenun konvensional.

"Kita coba cari ide dan mulai berkreasi membuat tenun yang tidak bisa dibuat dengan mesin. Dan Tenun Ikat Bandar Kidul inilah hasilnya. Semakin berkembangnya zaman, motif kita juga semakin dikreasikan agar produk kita bisa dinikmati masyarakat dengan nyaman," ujarnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed