DetikNews
Sabtu 09 Desember 2017, 11:21 WIB

Salah Paham, Taksi Online dan Angkot di Malang Nyaris Bentrok

Muhammad Aminudin - detikNews
Salah Paham, Taksi Online dan Angkot di Malang Nyaris Bentrok Para sopir angkot dan taksi online mendatangi Polres Malang (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang - Kisruh taksi online dengan pengemudi angkutan umum (angkot) terjadi di Kota Malang. Bentrokan dapat dihindari setelah kedua belah pihak bersepakat damai karena telah ada kesalahpahaman.

Isiden ini berawal saat pengemudi taksi online, belakangan diketahui dari Driver Online Arema (DOA), menjemput penumpang di Jalan Padjajaran, Jumat (8/12/2017), malam. Pengemudi ankot yang mengetahui itu langsung melakukan protes dan memaksa penumpang turun.

Sopir angkot berdalih lokasi penjemputan adalah zona merah atau daerah terlarang bagi taksi online mengambil penumpang lantaran lokasinya yang masih berada dekat dengan Stasiun Besar Malang di Jalan Trunojoyo.

Perang mulut tak terhindarkan. Beruntung aparat kepolisian sigap dan membawa pihak berselisih ke Polres Malang Kota. Insiden itu terlihat oleh baik pengemudi taksi online dan angkot yang lain. Mereka berbondong-bondong turut mendatangi Mapolres Malang Kota di Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Perwakilan kedua belah pihak dipanggil untuk menyelesaikan perkara. Sementara pengemudi lain tetap bertahan di depan Mapolres. Upaya mediasi polisi tak sia-sia. Kedua belah pihak akhirnya bersepakat damai. Insiden itu terjadi karena kesalahpahaman.

Ketua Serikat Sopir Indonesia (SSI) Malang Raya Agus Mulyono mengatakan, ada miss komunikasi dan saat ini sudah clear. Kedua belah pihak sepakat masalah telah selesai.

"Tadi malam ada miss komunikasi, tentang 8 zona merah yakni daerah bebas taksi online yang sudah disepakati sebelumnya. Saudara taksi online tidak tahu di mana titik penjemputan penumpang yang dilarang. Tetapi semua sudah selesai, ini hanya kesalahpahaman," ujar Agus usai pertemuan kepada wartawan di Mapolres.

Agus mengaku, akan gencar melakukan sosialisasi kepada semua anggotanya terkait zona merah yang telah disepakati. Seperti area stasiun, sekolahan, tempat belanja maupun titik lain yang jumlahnya ada delapan.

"Kami mohon maaf bila anggota ada kesalahpahaman. Kami akan terus melakukan sosialisasi aturan yang disepakati. Sampai nantinya ada aturan baru," tegasnya.

Sopir angkot dan taksi online sepakat damai, insiden terjadi hanya karena kesalahpahamanSopir angkot dan taksi online sepakat damai, insiden terjadi hanya karena kesalahpahaman (Foto: Muhammad Aminudin)

Sementara Andik Subianto perwakilan dari DOA, transportasi berbasis online sempat berseteru dengan pengemudi angkutan umum, mengakui, titik penjemputan yang disangka melanggar. Merupakan titik yang dirasa jauh dari zona merah, saat dilakukan order penjemputan penumpang saat itu.

"Bagi kami titik itu, sudah cukup jauh. Tetapi rekan lain menganggapnya telah melanggar. Tapi ini kesalahpahaman yang telah disadari kedua belah pihak, jadi sudah tidak ada masalah lagi," ujarnya terpisah.

Ditambahkan, pihaknya juga akan gencar bersosialisasi kepada anggotanya soal zona yang telah disepakati. Alangkah baiknya, lanjut dia, nanti ada aturan yang lebih spesifik atau pengaturan daerah bebas bagi taksi online.

"Syukur-syukur nanti, ada lebih spesifik dalam pengaturan jarak dari zona merah. Agar kesalahpahaman tak terulang lagi," bebernya.

Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Ambuka Yudha menuturkan, kedua belah pihak telah menyepakati untuk mematuhi aturan yang ada, terkait zona merah atau daerah yang dilarang bagi taksi online.

"Kami tadi hanya memfasilitasi, semua sepakat akan menjaga keamanan dan kenyamanan Kota Malang. Kesalahpahaman telah diakui, dan semua bersepakatan untuk berdamai," tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed