detikNews
Rabu 30 Agustus 2017, 08:31 WIB

Ngopi di Warung Kopi Luwak Ini Bisa Juga Ngintip Proses Pembuatannya

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ngopi di Warung Kopi Luwak Ini Bisa Juga Ngintip Proses Pembuatannya Sulasmi, pemilik warung kopi luwak/Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Jangan mengaku pecinta kopi jika belum mencicipi kopi luwak Wonosolam di Jombang, Jawa Timur. Ya, selain bisa menyeruput gurihnya kopi luwak, warung kopi satu ini bisa menjadi wisata edukasi bagi keluarga. Pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan kopi dan memberi makan belasan luwak.

Kopi luwak itu bisa ditemukan di Warung Pojok milik Sulasmi (55), di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Jombang. Tepat di belakang warung ini, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan kopi luwak. Di penangkaran milik Sulasmi, terdapat 17 ekor luwak yang setiap hari dimanfaatkan untuk menghasilkan kopi luwak.

Tak sekadar menonton, pengunjung juga bisa memberi makan luwak dengan buah kopi matang jenis arabika maupun robusta, hasil kebun warga Wonosalam yang sudah disiapkan pemilik warung. Buah-buah kopi itu menjadi makanan favorit luwak. Sementara biji kopi keluar bersama kotoran luwak. Biji-biji kopi itulah yang selanjutnya diolah menjadi kopi luwak yang bercita rasa khas.
Biji kopi keluar bersama kotoran luwak/Biji kopi keluar bersama kotoran luwak/ Foto: Enggran Eko Budianto

"Dalam sehari, 17 luwak ini rata-rata menghasilkan 1 kilogram kopi," kata Sulasmi kepada wartawan di penangkaran luwak miliknya, Rabu (30/8/2017).


Agar menghasilkan cita raya yang tinggi, lanjut Sulasmi, biji kopi bercampur kotoran luwak dijemur di tempat khusus selama 12 bulan. Setelah itu, biji-biji kopi baru dibersihkan dan diolah menjadi bubuk kopi hitam.

Untuk penyajiannya, Sulasmi juga mempunyai cara khusus. Jika pada umumnya bubuk kopi diseduh dengan air panas, di warung Pojok ini bubuk kopi luwak direbus bersama air hingga mendidih sembari diaduk rata. Baru larutan kopi dituangkan ke dalam cangkir untuk disajikan ke para pengunjung. Bagi yang tak suka pahit, pengunjung bisa menambahkan gula sesuai selera.
Kopi luwak bercita rasa khas Wonosalam/Kopi luwak bercita rasa khas Wonosalam/ Foto: Enggran Eko Budianto

"Untuk menyeduh kopi luwak caranya harus seperti itu supaya rasanya tetap terjaga," ungkapnya.

Buka sejak lima tahun yang lalu, kopi luwak di warung Pojok ini ternyata banyak diminati wisatawan. Rata-rata dalam sehari pengunjung mencapai 50 orang. Sementara di hari libur, jumlah pengunjung mencapai 100 orang. Selain terjamin keasliannya, harga kopi luwak di warung milik Sulasmi juga terjangkau. Untuk satu cangkir kopi, pengunjung cukup membayar Rp 10 ribu.

"Pengunjung banyak dari luar kota, seperti Sidoarjo, Sumenep, Lamongan, Surabaya dan sekitarnya," ujarnya.
Kopi luwak siap dinikmati/Kopi luwak siap dinikmati/ Foto: Enggran Eko Budianto

Tak ayal, Sulasmi mengaku kewalahan untuk menjamin ketersediaan bubuk kopi luwak. Wanita berhijab ini juga membeli biji kopi luwak dari warga sekitar yang juga memelihara luwak. "Saya hanya menerima biji kopi yang masih campur kotoran luwak, kalau biji kopi sudah bersih saya tak mau, untuk menjamin keaslian kopi luwak," terangnya.

Salah seorang pengunjung warung Pojok, Dedi Pratama (40) mengaku sudah sering mampir ke warung Sulasmi untuk menyeruput kopi luwak. Bahkan kali ini dia mengajak anak, istri dan orang tuanya untuk mencicipi gurih dan asamnya kopi luwak Wonosalam. Menurut dia, kopi luwak yang disuguhkan pengelola warung terjamin keasliannya. Karena proses pembuatan kopi itu bisa dilihat langsung oleh para pengunjung.

"Di tempat ini kita tahu awal prosesnya, kalau di tempat lain kebanyakan sudah berupa kopi di cangkir. Harganya juga sangat terjangkau dibandingkan kopi brand luar negeri," cetus peria asal Kota Surabaya ini.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed