DetikNews
Jumat 21 April 2017, 18:00 WIB

Ini Kronologi Pengeroyokan Pemuda di Jombang Hingga Tewas

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ini Kronologi Pengeroyokan Pemuda di Jombang Hingga Tewas Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Yeyen Siswanto (28), warga Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang, tewas akibat tenggelam di Sungai Brantas. Namun, korban nekat masuk ke sungai akibat dikejar 10 orang tetangga desanya lantaran kerap mengajak jalan kekasihnya hingga larut malam. Begini kronologi tewasnya Yeyen.

"Pacar korban masih berusia 16 tahun, keluarga pacarnya tak menyetujui hubungan mereka karena korban pengangguran," kata Kapolres Jombang AKBP Agung Marlianto kepada wartawan, Jumat (21/4/2017).

Meski tak direstui orang tua si gadis, lanjut Agung, kedua sejoli itu nekat menjalin hubungan diam-diam selama 9 bulan terakhir. Ditambah lagi Yeyen kerap mengajak keluar kekasihnya hingga larut malam.

Seperti yang dilakukan korban pada Sabtu (15/4) malam. Setelah mengajak jalan kekasihnya, Yeyen baru mengantarkan pulang gadis 16 tahun itu ke Dusun/Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Minggu (16/4) dini hari. Hal itu memicu amarah orang tua kekasih korban.

"Keluarga pacar korban meminta bantuan warga sekitar, juga disampaikan ke Kepala Dusun Jombatan. Kepala Dusun kemudian melakukan upaya provokasi, ada kalimat perintah penangkapan korban dari kepala dusun," ujarnya.

Gayung pun bersambut. Warga yang telah berjaga, melihat Yeyen mengantarkan pulang kekasihnya di Dusun Jombatan mengendarai sepeda motor sekitar pukul 03.00 Wib. Usai menurunkan kekasihnya, korban pun berniat pulang ke rumahnya di Desa Jatiduwur.

"Setelah pacarnya turun dan masuk ke dalam rumah, korban kembali. Namun, korban dihadang 10 tersangka. Mereka meminta korban berhenti," terangnya.

Karena takut dihadang banyak orang, Yeyen memilih tancap gas. Tersangka MS (16) dan SF (17) sempat melakukan pemukulan menggunakan kayu pancing dan melempar korban dengan sandal. Namun, upaya itu tak menghentikan pelarian korban.

"Tersangka lainnya mengejar korban hingga korban jatuh dari motornya. Kemudian korban lari ke dalam semak-semak hingga terjun ke Sungai Brantas," jelas Agung.

Panik dan takut dipukuli warga, tambah Agung, membuat Yeyen nekat menceburkan dirinya ke Sungai Brantas. Diduga saat itu korban terbentur bebatuan sungai sehingga tenggelam dan hanyut hingga wilayah Kabupaten Mojokerto.

"Masih kami kembangkan untuk tersangka lainnya. Namun, dari keterangan saksi dan olah TKP, tersangka berjumlah sepuluh orang tersebut," tandasnya.

Para tersangka adalah SW (47)-kuli bangunan, MI (47)-Kepala Dusun Jombatan, MY (24)-kuli bangunan, JS (23)- kuli bangunan, MR (20)-wiraswasta, WR (16)-pelajar, AA (25)-karyawan pabrik, WA (20)-kuli bangunan, serta MS (16) dan SF (17)-pelajar. Mereka resmi menyandang status tersangka pada Kamis (20/4).

Tersangka MY, JS, MR, WR, AA, dan WA dijerat dengan Pasal 335 ayat (1) ke 1e KUHP karena melakukan ancaman kekerasan terhadap korban. Kepala Dusun Jombatan dan warganya berinisial SW dijerat Pasal 335 ayat (1) dan (2) KUHP karena melakukan provokasi untuk membangkitkan amarah warga. Sementara tersangka MS dan SF dijerat dengan Pasal 170 ayat (1) dan (2) KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.

Yeyen ditemukan tak bernyawa oleh warga di DAM Sipon Sungai Brantas, Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Senin (17/4). Tubuh korban dalam kondisi penuh luka akibat benturan selama hanyut di sungai. Berdasarkan hasil autopsi, pemuda asal Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben itu tewas akibat tenggelam.
(bdh/bdh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed