9 Orang Terjebak di Tengah Sungai, Evakuasi Berlangsung Dramatis

Enggran Eko Budianto - detikNews
Minggu, 05 Mar 2017 18:05 WIB
Saat kedua keluarga terjebak banjir di tengah sungai (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Sebanyak sembilan orang dari dua keluarga wisatawan terjebak banjir saat asyik berfoto di Sungai Pandan Dusun Tanjunganom, Desa Tanjungkenongo, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Minggu (5/3/2017). Upaya penyelamatan dua keluarga ini berlangsung dramatis.

Musibah ini melibatkan keluarga Luluk (50), asal Kelurahan Kendangsari, Kecamatan Rungkut Surabaya dan keluarga Novi (44), asal Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Anak Luluk, Reza Erdiansyah (17), mengatakan, sebelum insiden mengerikan itu terjadi, dirinya sedang berfoto bersama ibu dan lima saudaranya yakni Ilham (16), Lilik (46), Tisya (17), Keila (4), dan Arin (12). Ketujuh orang ini asyik berfoto di atas bebatuan tengah sungai yang berjarak sekitar 12 meter dari bibir sungai.

Empat ban digunakan untuk mengevakuasi dua keluargaEmpat ban digunakan untuk mengevakuasi dua keluarga (Foto: Enggran Eko Budianto)
Sementara Isnaini (48) yang tak ikut berfoto menunggu di atas sungai. Saat itu debit air sungai masih rendah dengan arus yang tak terlalu kencang. Tak jauh dari keluarga ini, juga terdapat anak dan ibu yang mengalami nasib serupa, yakni Novi (44) dan putranya Eno (7). Hanya saja, keduanya berjarak sekitar 6 meter dari bibir Sungai Pandan.

"Sekitar 20 menitan kami berfoto, tiba-tiba air sungai meninggi, arusnya sangat kencang," kata Reza kepada wartawan di lokasi.

Kondisi debit air Sungai Pandan yang mendadak naik, membuat kedua keluarga ini terjebak di tengah derasnya arus sungai. Novi dan anaknya terlihat histeris sembari berpegangan pada dahan pohon yang menjulur ke tengah sungai. Sementara putranya tak kalah ketakutan berpegangan pada pinggang ibunya. Keduanya berusaha keras mempertahankan pegangan karena terlihat tubuh mereka bergelayut terbawa arus sungai.

Rasa panik dan takut juga dialami keluarga Luluk. Dia bersama enam anak dan saudaranya berusaha bertahan di tengah kepungan derasnya arus Sungai Pandan dengan berpijak pada batu besar. Meski panik, Reza terlihat mendekap erat adiknya, Keila. Sementara Ilham yang ketakutan hanya bisa menangis karena debit air sungai semakin meninggi nyaris menenggelamkan batu tempat mereka berpijak. Begitu pula Luluk dan saudaranya Lilik yang tak hentinya melantunkan doa sembari berteriak memohon pertolongan.

Tambang diikatkan di batu agar bisa digunakan untuk evakuasiTambang diikatkan di batu agar bisa digunakan untuk evakuasi (Foto: Enggran Eko Budianto)
"Airnya semakin deras dan meninggi, kami semua panik," ujarnya.

Teriakan histeris para korban membuat warga sekitar berdatangan untuk memberikan pertolongan. Kepala Dusun Tanjunganom, Basori mengatakan, derasnya arus sungai membuat upaya penyelamatan harus menggunakan tambang plastik. Warga membentangkan tambang sepanjang 50 meter melintas di atas sungai tepat posisi para korban berada. Tambang itu diikat pada batu di tepi sungai sembari dipegangi oleh para pria warga sekitar.

Selain itu, untuk mengangkat tubuh korban dari tengah sungai, warga menggunakan empat ban dalam mobil bekas yang lebih dulu dimasukkan ke tambang. Dengan penuh keberanian, sejumlah pria menerjang derasnya arus Sungai Pandan sembari berpegangan pada tambang mendekati para korban. Satu per satu korban akhirnya bisa diselamatkan.

"Proses penyelamatan sekitar satu jam, Alhamdulillah korban selamat semua," terang Basori.

Deru tangis anak dan ibu dua keluarga itu tumpah di tepi Sungai Brantas. Dibantu warga, para korban memilih menenangkan diri di tepi sungai. Lantaran tak ada yang terluka, mereka menolak saat dibawa ke rumah sakit.

Akhirnya sembilan orang dapat diselamatkan satu persatu Akhirnya sembilan orang dapat diselamatkan satu persatu (Foto: Enggran Eko Budianto)


(iwd/iwd)