Dapat Perintah Presiden, Buwas Cari Anjing Pelacak ke Surabaya

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2016 15:53 WIB
Foto: Imam Wahyudiyanta
Surabaya - Perintah Presiden Jokowi untuk menggunakan anjing pelacak (K-9) ditanggapi kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso dengan terus mencari anjing yang cocok. Termasuk usaha Buwas pergi ke Surabaya untuk melakukan konsultasi.

Tujuannya adalah rumah Sugiarto Tanjung di Jalan Sumatera, Surabaya. Sugiarto adalah pemilik PT Canineone yang sekaligus ahli dan instruktur anjing. Sugiarto menjadi langganan kepolisian di Surabaya baik Polda Jatim, Polrestabes Surabaya, dan Polres Pelabuhan Tanjung Perak dalam hal kebutuhan dan pelatihan K-9.

"BNN akan membentuk kekuatan tambahan yaitu K-9. Ini atas perintah bapak presiden untuk penguatan masalah narkoba" ujar Buwas kepada wartawan, Sabtu (27/2/2016).

Buwas mengatakan, alasan presiden melibatkan anjing pelacak dalam pemberantasan narkoba sangat tepat. Penggunaan X-Ray sebenarnya sangat membantu, tetapi alat tersebut juga punya kelemahan. Kelemahan itulah yang coba diisi oleh kemampuan anjing pelacak untuk mengendus dan menemukan narkoba yang disembunyikan pembawanya.

Buwas menginginkan agar semua kantor BNN di daerah mempunyai unit K-9. Tetapi untuk sementara, akan ada prioritas untuk kepemilikan K-9 yakni untuk daerah yang rawan narkoba. Nantinya akan ada perbedaan jumlah kepemilikan K-9 antara kantor BNN yang satu dengan kantor BNN yang lain.

"Belum bisa untuk seluruhnya karena berkaitan dengan anggaran. Dan yang jadi prioritas adalah ancaman, bukan daerah," lanjut Buwas.

Buwas sendiri menginginkan agar armada anjing pelacaknya berasal dari anjing lokal saja. Alasannya adalah harganya yang lebih murah dan perawatannya yang relatif lebih mudah. Namun untuk jenisnya, Buwas memilih menyerahkan kepada ahlinya. Yang pasti, Buwas ingin anjing tersebut tidak boleh terlalu reaktif namun bisa mendeteksi target secepat mungkin.

"Kami akan berkonsultasi dan melakukan evaluasi termasuk berapa lama seekor anjing yang tak bisa apa-apa berubah menjadi anjing pelacak," tandas Buwas.

Keinginan Buwas untuk menjadikan anjing lokal sebagau unit K-9 ditanggapi positif oleh Sugiarto. Sugiarto sendiri justru mengusulkan agar Unit K-9 untuk BNN menggunakan anjing lokal.

"Ada satu keunggulan besar anjing lokal yakni sudah terbiasa hidup dan tinggal di lingkungan dan kondisi alam di Indonesia sehingga tidak perlu penyesuaian," ujar Sugiarto.

Untuk kemampuan, Sugiarto mengatakan bahwa kemampuan setiap anjing adalah sama karena anjing-anjing pelacak lokal di Indonesia aslinya juga adalah anjing turunan impor.

"Ini kan anjing impor, hanya lahirnya saja di sini (Indonesia). Jadi kemampuannya sama. Biarpun anjing impor dan pandai di sana, tapi kalau tidak bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca di sini, pasti kemampuannya kerjanya menurun," kata Sugiarto.

Sugiarto cenderung mengarahkan BNN untuk menggunakan anjing jenis Beagle. Anjing yang aslinya Inggris ini menurut Sugiarto badannya tidak besar tapi cukup lincah untuk memudahkan operasional.

"Anjing ini biasanya untuk berburu dan karakternya bagus tergantung akan kemana diarahkan, (mengendus) ke narkotika bisa, ke emas juga bisa. Melatihnya juga tidak lama, cukup sebulan sudah jadi," tandas Buwas. (iwd/fat)