Nur menyulap ruang keluarga di rumahnya di Desa Gambang menjadi bengkel lampion. Dibantu 3 pekerja, dia merangkai kawat besi menjadi kerangka lampion. Kain kaos aneka warna dan hiasan manik-manik dia pasang dengan hati-hati pada lampu hias khas Tionghoa itu.
Sejak sebulan yang lalu, Nur mengaku kebanjiran pesanan lampion. Tak hanya dari sejumlah klenteng di wilayah Jombang, pesanan lampion juga datang dari WNA asal Perancis.
"Kalau yang warna merah khusus pesanan dari klenteng. Ini juga mengerjakan pesanan dari warga Perancis 100 buah lampion," kata Nur kepada wartawan, Kamis (4/2/2016).
Dengan begitu, lampion buatan Nur tak hanya berwarna merah. Dia juga membuat lampion aneka warna yang dipesan untuk menghiasi hotel dan vila oleh pengusaha properti.
Banyaknya pesanan sejak sebulan yang lalu, membuat keuntungan yang dia raup pun melimpah. Dengan modal awal Rp 35 juta, kini omset yang dia dapatkan mencapai Rp 60 juta.
"Ukuran kecil saya hargai Rp 750 ribu. Kalau yang besar Rp 1,25 juta," ujarnya.
Besarnya keuntungan yang dia dapatkan, lanjut Nur, memang sebanding dengan rumitnya proses pembuatan lampion. Sebuah lampion membutuhkan waktu pengerjaan selama 2 hari.
"Kesulitan lainnya pada ketersediaan bahan baku. Karena benang produksi pabrik, warna yang diminta pemesan tidak ada di toko," ungkapnya. (fat/fat)











































