detikNews
Senin 15 Desember 2008, 09:27 WIB

Hutan Lindung Krawak Seluas 17.420 Hektar Gundul

- detikNews
Tuban - Hutan lindung seluas 17.420 hektar milik Perhutani KPH Parengan kawasan Alas Krawak di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban, sejak sembilan tahun lalu gundul. Bahkan, sebagian besar telah beralih fungsi jadi lahan pertanian yang digarap petani secara liar.

Gundulnya hutan berumur ratusan tahun dan dikenal sebagai hutan keramat itu telah mematikan 10 dari 18 mata air di wilayah hutan di petak 26-B BKPH Mulyoagung. Akibat matinya Mata Air Krawak, Air Terjun Nglirip di Singgahan mati di saat musim kemarau.

Selain itu, hamparan lahan pertanian dari wilayah Kecamatan Singgahan dan sebagian Kecamatan Montong, Tuban yang mengandalkan sumber air Krawak juga tak terairi. Apalagi penopang irigasi dari sungai dan Air Terjun Nglirip.

"Memang sejak sekitar tahun 1999, sawah di wilayah ini kalau musim kemarau tidak bisa ditanami. Sekarang bisa digarap, karena sedang musim hujan," kata Syamsul (47) salah satu petani Desa Mulyoagung, Singgahan saat ditemui detiksurabaya.com<\/strong> di ladangnya desa setempat, Senin (15\/12\/2008).

Hal senada diungkapkan, sejumlah petani dari Desa Guwo Terus, Kecamatan Montong, Tuban. Petani Gowo Terus dan sekitarnya secara turun temurun juga mengandalkan air irigasi dari Sungai Nglirip.

Ditemui wartawan saat kegiatan penghijauan di Hutan Lindung Krawak, ADM Perhutani Parengan, Kristomo menyatakan, gundulnya hutan akibat penebangan liar di tahun 1997-1998 silam. Hingga tahun 2006 lalu, masih terdapat 120 petani menggarap sebagian hutan lindung menjadi lahan pertanian.

"Melalui berbagai pendekatan, sekarang tinggal sekitar 50 petani. Mereka sepakat setelah musim tanam ini akan mengembalikan fungsi lahan menjadi hutan lagi," kata Kristomo, di sela-sela penghijauan 11.000 batang pohon jati, mahoni dan kesambi di hutan lindung setempat.

Ditemui di tempat sama, KH Nur Nasroh, pimpinan Pondok Pesantren Wali Sembilan, Dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan menyatakan, pihaknya sejak tahun 2006 hingga 2008 telah menanam sebanyak 84 ribu pohon di kawasan hutan setempat.

"Saya berharap seluruh warga masyarakat sekitar hutan ikut aktif melakukan penghijauan," kata Kiai Nur Nasroh yang pesantrennya dikenal sebagai pesantren yang peduli lingkungan.


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed