Lestarikan Ajaran Sunan Muria, Warga Dawe Gelar Kirab Pager Mangkuk

Dian Utoro Aji - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 17:40 WIB
Kirab Pager Mangkuk Dukuh Piji Wetan Kecamatan Lau, Kudus, Kamis (25/11/2021).
Kirab Pager Mangkuk Dukuh Piji Wetan Kecamatan Lau, Kudus, Kamis (25/11/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Warga Dukuh Piji Wetan Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah menggelar kirab Pager Mangkuk hari ini. Kirab ini digelar untuk melestarikan ajaran Sunan Muria tentang bersedekah.

Kirab Pager Mangkuk digelar secara sederhana dan menerapkan protokol kesehatan. Kirab dimulai dari panggung Ampiran menuju punden Depok Dukuh Piji Wetan, Desa Lau.

Ada satu gunungan berisi hasil panen warga dan satu replika mangkuk yang dikirab pada acara festival tersebut. Gunungan tersebut didoakan terlebih dahulu sebelum diberangkatkan.

Setelah itu baru diarak menuju punden Depok yang jaraknya sekitar satu kilometer. Sesampai di punden Depok, acara doa kembali digelar. Hasil panen yang ada di gunungan dan jajanan kemudian dibagikan kepada warga yang hadir.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Muchammad Zaini, mengatakan Kirab Pager Mangkuk ini menjadi tanda dibukanya festival yang digelar di Dukuh Piji Wetan, Desa Lau. Kirab Pager Mangkuk ini memiliki filosofi tentang ajaran dari Sunan Muria, yakni tentang bersedekah.

"Festival Pager Mangkuk tahun 2021 yang diadakan warga Dukuh Piji Wetan, festival ini direalisasi dari ajaran Mbah Sunan Muria terkait pager mangkok, terkait dengan bersedekah. Tentang mengingatkan kita pada tetangga, selalu ingat kepada sanak sedulur begitu," ujar Zaini kepada wartawan ditemui di lokasi, Kamis (25/11/2021).

Dia menjelaskan ada satu gunungan yang dikirab. Gunungan itu berisi hasil panen warga. Kirab dilakukan dari panggung Ampiran sampai dengan Punden Depok.

Menurutnya Punden Depok dulunya merupakan tempat berkumpul masyarakat. Baik dari usia muda hingga usia tua.

"Kirab gunungan ini hasil alam dari warga Dukuh Piji Wetan, ada nanas, dan hasil tanaman sawah lainnya. Dan ada replika mangkuk, sebenarnya sedekah macam-macam ya. Itu adalah ekspresi orang Jawa," ujar Zaini.

"Dikirab dari panggung Ampiran sampai Punden Depok. Dulunya di sini tempat berkumpulnya seluruh usia. Tempat lapang di sini. Di sinilah anak muda, tua, perempuan laki-laki, semua berkumpul di sini semua," sambung dia.

Zaini menjelaskan tradisi Pager Mangkuk sendiri memiliki filosofi. Yakni tentang tradisi tentang bersedekah yang diwarisi oleh Sunan Muria salah satu Wali Sanga.

"Pager mangkuk itu artinya bersedekah itu ya. Pagerono omahmu kanthi mangkuk begitu. Pager mangkuk luwih betik ketimbang pager tembok. Artinya membuka diri kepada tetangga kita kepada sanak saudara untuk selalu bersedekah saling berbagi," ujar Zaini.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...