2 Tahun Jokowi, Pakar UGM Soroti Hasrat Politik Menteri di Pilpres 2024

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 16:46 WIB
Presiden Joko Widodo melepas tukik di Pantai Kemiren, Desa Griya Tegalsari, Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap Selatan, Cilacap, Jawa Tengah (23/9/2021). ANTARA FOTO/Setpres-Agus Suparto/foc.
Presiden Joko Widodo melepas tukik di Pantai Kemiren, Desa Griya Tegalsari, Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap Selatan, Cilacap, Jawa Tengah (23/9/2021). (ANTARA FOTO/Setpres-Agus Suparto/foc)
Yogyakarta -

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Wawan Mas'udi, memberikan beberapa catatan jelang dua tahun kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Wawan menyoroti soal kemampuan Jokowi mengatur para menterinya jelang Pilpres 2024.

Seperti diketahui, saat ini muncul nama-nama menteri yang dikaitkan dengan Pilpres 2024. Sebut saja Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Erick Tohir, hingga Sandiaga Uno yang masuk dalam bursa Pilpres. Termasuk nama-nama beberapa kepala daerah dan anggota DPR.

Wawan menyebut, Jokowi harus bisa mengelola para menteri yang punya hasrat politik. Sebab, sejauh ini janji-janji politik di periode kedua Jokowi-Ma'ruf belum semua terealisasi.

"Kalau pengaruhnya ke pemerintahannya Pak Jokowi ya tinggal bagaimana Pak Jokowi bisa mengelola para menterinya ini saja terkait dengan target-target pemerintahan," kata Wawan saat dihubungi wartawan, Selasa (19/10/2021).

Dekan Fisipol UGM itu memaparkan jika menteri sudah terlanjur fokus berpolitik akan berpengaruh terhadap kinerja pemerintah. Karena, mereka dinilai justru akan lebih fokus untuk meningkatkan elektabilitas.

"Ketika para menteri sekaligus ketua partai itu mulai tidak fokus ke fungsi-fungsi pemerintahannya itu satu, karena itu akan mengganggu kinerja," jelasnya.

Selain itu, kondisi ini juga dinilai berbahaya bagi kementerian. Sebab, bisa saja sumber daya yang ada di kementerian dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

"Kedua para menteri yang juga sekaligus politisi dan ketua partai ini mulai memanfaatkan program-program di kementerian, sumber daya di kementerian untuk kepentingan politik partikular. Itu yang paling bermasalah itu nanti di situ," jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Wawan, sikap politisi yang mulai memanasi mesin politik jelang Pilpres adalah hal yang wajar. Sebab, hal ini juga tidak bisa dihindari.

"Kalau persoalan para menteri kemudian politisi pemimpin partai sudah mulai menunjukkan minat dan mulai bekerja berkonsolidasi untuk kebutuhan 2024 ya itu memang tidak bisa dihindari. Karena nature mereka untuk kompetisi politik," urainya.

"Tinggal dipastikan apakah hasrat ketua politik yang sementara ini menjadi bagian dari pemerintah Jokowi itu seberapa kuat mengganggu pemerintahannya. Nah ini yang bisa lebih diperhatikan oleh Jokowi," imbuhnya.

Dengan sudah terang-terangannya langkah menteri mencari tiket Pilpres, Wawan melihat Jokowi masih belum akan ditinggal para menteri di periode terakhirnya sebagai presiden.

"Kalau ditinggal nggak ya. Karena kan ini kan tidak ada situasi krisis lah dalam pemerintahan sekarang dalam konteks konsolidasi. Ini kan beda dengan dulu dengan zamannya Soeharto yang menteri-menteri meninggalkan, kemudian rezimnya mengalami proses delegitimasi. Kalau sekarang kan tidak," paparnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...

Saksikan video 'SMRC Soroti 2 Tahun Jokowi-Amin: Kondisi Politik Cenderung Memburuk':

[Gambas:Video 20detik]