Garebeg Mulud Keraton Yogya Tahun Ini Ditiadakan

Heri Susanto - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 16:55 WIB
Garebek Besar Keraton Yogyakarta, Senin (12/8/2019).
Garebeg Mulud 2019 lalu (dok detikcom)
Yogyakarta -

Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X memastikan tak menggelar Garebeg Mulud tahun ini. Tradisi arak-arakan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi tersebut ditiadakan.

"Ndak ada (Garebeg Mulud)," kata Sultan yang juga Gubernur DIY ini saat ditemui di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Kemantren Danurejan, Yogyakarta, Senin (18/10/2021).

Sultan menjelaskan kondisi pandemi virus Corona (COVID-19) tidak memungkinkan digelarnya acara Garebeg Mulud yang berpotensi mengundang kerumunan. Sultan juga menegaskan Selasa (19/10) tidak ada libur bersama di Yogyakarta.

"Besok masih masuk," katanya.

Sementara itu, dikutip dari akun resmi instagram @kratonjogja, Garebeg Maulud pada 19 Oktober ditiadakan. Pihak Keraton Yogyakarta menyebut tahun ini tidak ada arak-arakan prajurit dan gunungan Garebeg Mulud.

"Sehubungan dengan masih diberlakukannya PPKM Darurat di wilayah DIY, Keraton Yogyakarta akan meniadakan arak-arakan prajurit dan Gunungan Garebeg Mulud dalam rangka peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Selasa, 19 Oktober 2021/12 Mulud Alip 1955," tulis akun Instagram @kratonjogja.

Dalam keterangan tersebut, warga dipersilakan untuk menyimak berbagai video dan tutorial tentang Keraton Yogyakarta melalui media sosial resmi keraton.

Berbeda dengan tahun lalu, pelaksanaan tradisi sekaten yang tradisi lainnya masih berlangsung. Seperti gamelan sekaten dibunyikan pada pukul 16.00 WIB sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Gamelan dipindahkan ke pagongan di halaman Masjid Besar mulai jam 23.00 WIB. Hadirnya Sri Sultan beserta pengiringnya ke serambi Masjid Besar untuk mendengarkan pembacaan Riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW, diselenggarakan pada tanggal 11 Rabiul Awal.

Kemudian tradisi terakhir yaitu dikembalikannya gamelan sekaten dari halaman Masjid Besar ke Kraton sebagai tanda berakhirnya upacara Sekaten.

(ams/sip)