Pandemi, Perajin Topeng di Magelang Sepi Pembeli

Eko Susanto - detikNews
Sabtu, 16 Okt 2021 15:13 WIB
Khoirul Mutaqin (33) di Magelang membuat topeng secara autodidak hingga akhirnya menjadi pekerjaannya, Sabtu (16/10/2021).
Khoirul Mutaqin (33) di Magelang membuat topeng secara autodidak hingga akhirnya menjadi pekerjaannya, Sabtu (16/10/2021). Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang -

Khoirul Mutaqin (33) belajar membuat topeng secara autodidak hingga akhirnya menjadi pekerjaannya. Namun selama pandemi ini, pesanan topeng sepi.

Saat ditemui detikcom di rumahnya Dusun Wonolelo RT 04/RW 09, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dia tengah menatah untuk membuat topeng. Dulunya orang yang memesan topeng mengetahui dari mulut-mulut, namun seiring perkembangan pemesanan bisa dilakukan secara online.

Khoirul Mutaqin yang biasa disapa Irul menuturkan, awalnya membuat topeng mulai sekitar tahun 2011. Ketika itu, Irul diajak seniman Sanggar Wonoseni, Ipang, menuju rumah budayawan Sutanto Mendut di Studio Mendut.

"Proses ini nggak sengaja. Dulu pas tahun 2011, di Studio Mendut ada acara. Ketika itu, Pak Ipang mencari lima orang untuk natah. Saat itu, saya diajak kemudian di Studio Mendut mulai proses membuat," kata Irul saat ditemui di rumahnya, Jumat (15/10/2021).

Irul menceritakan, saat berada di Studio Mendut tersebut, diminta untuk membuat lima topeng. Lima topeng tersebut dibuat dalam waktu seminggu sekalipun masih polos. Ketika itu, Sutanto Mendut sempat terkejut dengan kepiawaiannya Irul membuat topeng.

"Pak Tanto kaget seminggu jadi lima, terus dilanjut dengan ngecat. Saat ngecat diajari sama Pak Ipang," ujarnya.

Dalam perkembangannya, kemudian Irul membuat topeng dilakukan di rumahnya. Membuat topeng tersebut secara resmi ditekuni sejak tahun 2015 atau 2016. Bahkan berkat dorongan dari temannya, Irul pada tahun 2017 mengikuti pameran di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Irul mengakui, jika tak memiliki darah seni. Hal ini mengingat kedua orang tuanya merupakan petani, sedangkan pendidikan formal hanya sampai SMP. Sekalipun demikian, dari belajar secara autodidak tersebut lambat laun pesanan pembuatan topeng berdatangan.

"Dari pameran itu, ada yang tertarik pesan. Ada juga yang menyampaikan tentang topeng gaya Yogya dan Solo. Terus, saya tertarik membuat topeng gaya Yogya," tutur Irul yang juga aktif di Komunitas Lima Gunung, itu.

Meski saat itu telah berdatangan pesanan membuat topeng, namun Irul masih ragu memasarkan secara online. Kemudian, ia memberanikan diri mulai dari mengunggah di Facebooknya dan sekarang juga diunggah di akun Instagramnya.

"Online sejak 2017, mulai dari Facebook terus Instagram. Dulu nggak berani di Facebook, masih ragu. Promosi online masih ragu, cuman nekat sejak 2017," katanya seraya menyebut pembuatan topeng dilakukan dalam tiga hari sampai seminggu.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...