Dijanjikan Kerja di Australia, Warga di Brebes Lapor Jadi Korban Penipuan

Imam Suripto - detikNews
Selasa, 05 Okt 2021 18:57 WIB
Calon pekerja yang melapor jadi korban penipuan menunjukkan kuitansi pembayaran, Brebes, Selasa (5/10/2021).
Calon pekerja yang melapor jadi korban penipuan menunjukkan kuitansi pembayaran, Brebes, Selasa (5/10/2021). Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes -

Warga di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, melapor menjadi korban penipuan perekrutan untuk bekerja di Australia. Korban mengaku dimintai sejumlah uang hingga puluhan juta rupiah.

Salah satu pelapor, Sahrul Ali (24), warga Kecamatan Larangan menjelaskan kasus ini terjadi pada pertengahan April 2021. Pria lulusan SMK ini ditawari kerja di sebuah perkebunan di Australia.

Bersama temannya, Sahrul Ali mendaftar di PT Karya Maula Sejahtera (KMS). Di kantor PT KMS, Sahrul Ali dan temannya ditemui oleh staf PT KMS bernama Fatmawati. Korban kemudian diminta membayar uang Rp 70 juta.

"Mendaftar melalui PT KMS dan ketemu Fatma. Dijanjikan kerja di perkebunan di Australia. Kemudian disuruh bayar Rp 70 juta. Rp 1 juta untuk MCU (medical chek up), Rp 5 juta booking job order, Rp 20 juta job order, Rp 44 juta untuk visa dan paspor," ungkap Sahrul Ali ditemui di Kantor Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Brebes, Selasa (5/10/2021).

Sahrul melanjutkan, pertama dirinya bayar Rp 1 juta, kemudian beberapa minggu setelahnya bayar lagi Rp 5 juta. Untuk melunasi pembayaran biaya administrasi, korban diminta menyerahkan sertifikat kepada staf PT KMS. Untuk kepentingan pelunasan biaya, pihak PT KMS meminta agar Sahrul menggadaikan sertifikat di bank.

"Sertifikat digadai ke bank yang tanda tangan bapak sebagai pemilik. Mau digadai Rp 80 juta tapi cair hanya Rp 64 juta. Saat akan diserahkah ke Yoran, dicegah sama saudara saya yang sengaja datang ke kantor Yoran (pemilik PT KMS, Yoran Ridha Maula). Saudara saya bilang supaya jangan diserahkan dulu karena perusahaan itu belum punya izin. Akhirnya uang dubawa pulang lagi," terangnya.

Sahrul meneruskan, dirinya dijanjikan berangkat bulan Juli atau Agustus 2021. Namun janji tersebut hingga kini tidak terealisasi.

"Setelah melengkapi pembayaran, kami dijanjikan berangkat Juli atau Agustus. Tapi sampai sekarang zonk (tak ada hasilnya). Tidak pernah ada pemberangkatan," sambung Sahrul.

Janji keberangkatan yang terus mundur membuat Sahrul makin curiga. Dia kemudian mendatangi PT KMS untuk menanyakan kepastian soal keberangkatan.

"Saya tanya (ke Yoran) kapan berangkatnya, terus dijawab bulan September akan ada proses pembuatan paspor dan akan berangkat," tandasnya.

Korban lain, Kasori (33) warga Kecamatan Wanasari menuturkan dirinya juga dimintai uang sebesar Rp 6 juta. Kasori juga menyerahkan surat-surat tanah sebagai jaminan.

"Bayar Rp 6 juta kontan dan diminta surat tanah sebagai jaminan. Dijanjikan Juli mau ada pemberangkatan tapi hingga hari ini tidak ada. Sejak saat itu saya baru menyadari menjadi korban penipuan," ujar Kasori.

Selengkapnya di halaman selanjutnya....