Penasaran Siapa Pelaksana Proyek Gapura Batas Kota Solo? Ini Orangnya

Ari Purnomo - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 17:20 WIB
Gapura Jurug Solo
Gapura Jurug Solo (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Mungkin tidak banyak yang tahu siapa yang membangun sejumlah gapura di batas kota Solo dan menara Masjid Agung Solo. Dia adalah RM Projosuwito, seorang profesional yang pernah menjabat sebagai bupati di Boyolali, Jateng.

Projosuwito diangkat sebagai Bupati Boyolali setelah penghapusan swapraja atas kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran tahun 1946.Tak lama menjabat sebagai bupati, pada tahun 1947, Projosuwito ditarik ke Jakarta sebagai pejabat Departemen Dalam Negeri. Jabatan Bupati Boyolali lalu diteruskan oleh wakilnya, R Hamong Wardoyo, dari tahun 1947-1949.

Menurut penuturan anak bungsu Projosuwito, Priyono Darmo Hadi (72), Projosuwito sebelum diputuskan menjadi Bupati Boyolali adalah seorang kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

Dari catatan yang berhasil dihimpun detikcom, memang menyebutkan Projosuwito adalah lulusan sekolah teknik di Middebare Technise Schoool, Solo. Dia kemudian bergabung di kedinasan Rijkswerken atau Jawatan Pekerjaan Umum Solo dan kemudian ditempatkan di Perwakilan Boyolali.

Pada saat pergolakan politik pasca penghapusan swapraja Surakarta, Projosuwito sudah merupakan pejabat senior di Boyolali dan dipercaya memimpin Boyolali dalam kondisi peralihan status dari bagian swapraja ke kabupaten mandiri tersebut.

Selanjutnya Projosuwito memang sering berpindah-pindah penugasan. Setelah dari Solo, lalu ke Boyolali, selanjutnya ditarik ke Jakarta, lalu ke Surabaya. Namun demikian, Projosuwito tetap memiliki rumah untuk keluarganya di Solo yang di Jalan Mashella No 7, Kepatihan Kulon, Solo, atau yang terkenal dengan sebutan Ndalem Kemasan.

"Bapak itu tugasnya berpindah-pindah, dulu di Boyolali, lalu ke Jakarta, terus pindah ke Surabaya dan menginap di Gubeng, lalu pindah ke sini (Dalem Kemasan)," ujar Priyono saat ditemui detikcom di Dalem Kemasan, Solo, Minggu (26/9/2021).

Pria yang akrab disapa Pak Pipik itu menambahkan, semasa kecil ayahnya bernama Sadarsan. Kemudian namanya berganti menjadi Purwo Atmoko dan berganti lagi menjadi RM Projosuwito.

"Nama kecilnya Sadarsan, kemudian remajanya ganti lagi Purwo Atmoko dan naik jabatan ganti jadi RM Projosuwito. Kalau ada huruf S di depan namanya itu adalah nama kecilnya Sadarsan," ungkapnya.

RM Ng ProjosuwitoRM Ng Projosuwito dan istri (Foto: Dok Keluarga)

Selama menjabat sebagai Kepala DPU, banyak karya yang sudah pernah dibuat dan masih tetap bertahan sampai saat ini. Dia mencontohkan, beberapa karyanya seperti tugu gerbang masuk ke Solo yang dibangun di masa pra kemerdekaan, atau masih di era pemerintahan Keraton Surakarta.

Dari sejumlah catatan, Projosuwito adalah orang yang memimpin pembangunan sejumlah bangunan menonjol yang masih dipertahankan di Solo hingga saat ini. Pipik juga mengonfirmasi catatan-catatan tentang karya ayahnya tersebut.

"Tugu Kleco, Jurug, termasuk yang di Alun-alun Kidul, menara Masjid Agung, perkantoran di Pasar Gedhe itu yang membuat bapak," ucapnya.

Pipik menambahkan, sosok ayahnya waktu itu memang bisa dikatakan cukup mempunyai pengaruh. Tidak heran jika banyak yang kemudian menjadikannya sebagai panutan baik dalam politik.

Tetapi, menjelang akhir hayatnya Projosuwito enggan menemui anak-anaknya setelah menjalani operasi tumor.

"Setelah operasi itu bapak sudah tidak mau menemui anak-anaknya, beliau meninggal pada 17 September 1960 antara pukul 09.00-10.00 WIB. Saat itu saya SD dan langsung menangis saat diberitahu bapak meninggal," ungkap dia.

(mbr/rih)