Saat Nasib Penatah Wayang Kulit Tak Seindah Karyanya

Robby Bernardi - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 16:05 WIB
Penatah wayang di Kabupaten Pekalongan, Sabtu (25/9/2021).
Penatah wayang di Kabupaten Pekalongan, Sabtu (25/9/2021). (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Kabupaten Pekalongan -

Di balik keindahan karya seni wayang kulit yang merupakan peninggalan leluhur, ada perjuangan para penatah wayang Purwa untuk bertahan di tengah pandemi. Bagaimana kondisi para penatah wayang saat ini?

Penatah wayang. Keahlian itu, didapat oleh Siswanto (45) dan dua saudaranya, yang merupakan warga Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan dari mendiang ayahnya yakni Ki Gondo Margono. Ki Gondo Margono sendiri merupakan dalang ternama pada zamannya. Ki Gondo, merupakan dalang wayang Purwa, yang juga penatah wayang kulit sejak 1959.

Siswanto sendiri sebelumnya hanya membantu ayahnya dalam membuat wayang Purwa, sejak tahun 1980. Namun, dua tahun terakhir, sejak sepeninggal ayahnya, dirinyalah yang mengambil kepemimpinan Sanggar Wayang Kulit Cokro Kembang.

Di kabupaten Pekalongan ini, dia bersama saudaranya sudah dikenal sebagai penatah wayang kulit.

"Saya dari kelas 3 SD, tahun 1980-an, mulai bantu-bantu membuat wayang ini. Ya belajar dari ayah," kata Siswanto.

Sejak duduk di bangku kelas 3 SD dirinya mulai berkutik dengan tatahan dan palu untuk membuat wayang kulit. Tidak heran, jika saat ini, tangannya begitu lincah menari di atas pola wayang yang telah dibuatnya dari kulit sapi atau kerbau.

Penggunaan bahan kulit sapi atau kerbau, kata Siswanto, tergantung pada permintaan pemesan. Sedangkan kulit sapi atau kerbau yang dia gunakan diperolehnya dari sejumlah pengepul, yang banyak ditemukan di Pekalongan dan sekitarnya.

Sebelum pendemi Corona, dia menerima banyak pesanan wayang. Bahkan, dia bisa menerima 20-30 pesanan wayang dalam sebulan. Namun sejak masuk pendemi Corona, pesanan terus menurun.

"Untuk kondisi saat ini sulit, beda sama dulu. Sebelum Corona, pesanan masuk 20 hingga 30 wayang, berbagai karakter wayang. Tapi selama pendemi, hanya 10 pesanan," kata Siswanto.

Para pemesan wayangnya, selain seseorang yang memang suka dan gemar dengan wayang, juga sejumlah dalang di Jawa Tengah. Mereka memesan wayang pada Siswanto melalui online.

"Yang paling banyak dipesan seperti Werkudara, Semar dan Bagong," lanjut dia.

Harga satu karakter wayang kulit, kata Siswanto, bervariasi mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 5 Juta. Setiap wayang membutuhkan waktu pengerjaan selama satu hingga dua minggu. Sedangkan untuk satu set wayang dan aksesorisnya harganya mencapai Rp 200 juta.

Namun demikian, Siswanto mengakui dunia yang diwariskan ayahnya, yakni penatah wayang kulit, kini masih dalam masa terpuruk.

"Pesanan ya ada sedikit. Namun, tidak seramai dulu. Ini masih menyelesaikan pesanan dan belum ada pesanan masuk lagi," ungkapnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...