Terpopuler Sepekan

Nani Takjil Sianida Didakwa Pembunuhan Berencana, Terancam Hukuman Mati

Pradito Rida Pertana - detikNews
Sabtu, 18 Sep 2021 08:44 WIB
Sidang perdana kasus Nani takjil sianida di PN Bantul, Kamis (16/9/2021).
Sidang perdana kasus Nani takjil sianida di PN Bantul, Kamis (16/9/2021). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul -

Terdakwa kasus takjil sianida yang menewaskan seorang bocah di Bantul, Nani Aprilliani Nurjaman (25), didakwa pasal pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal hukuman mati. Sementara penasihat hukum Nani menilai dakwaan pembunuhan berencana terhadap kliennya tidak pas.

"Terdakwa didakwa kesatu primair pasal 340 KUHP, subsidiair Pasal 338 KUHP, lebih subsidiair Pasal 353 ayat 3 KUHP, lebih lebih subsidiair Pasal 351 ayat 3 KUHP atau kedua Pasal 80 ayat 3 UU perlindungan anak atau ketiga Pasal 359 KUHP," kata Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul, Sulisyadi, kepada detikcom, Kamis (16/9/2021).

Sidang pembacaan surat dakwaan kasus takjil sianida ini digelar Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Kamis (16/9). Terdakwa Nani mengikuti persidangan secara online.

"Pasal yang terberat pasal 340 KUHP dengan ancaman pidananya maksimal hukuman mati, seumur hidup atau pidana penjara maksimal 20 tahun penjara," jelas Sulisyadi.

Menanggapi dakwaan tersebut, salah satu dari tim penasihat hukum Nani, Wanda Satria Atmaja, menjelaskan bahwa pihaknya keberatan dengan pengenaan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Menurutnya, apa yang telah direncanakan Nani tidak sesuai dengan kenyataannya.

"Karena saudara Tomi (target awal Nani) tidak meninggal dunia. Tapi lebih jelasnya nanti dalam persidangan," kata Wanda.

Sementara itu usai pembacaan dakwaan di persidangan, Hakim Ketua Aminuddin menunda sidang dan akan melanjutkannya pada 27 September dengan agenda pembacaan nota keberatan dari tim penasihat hukum.

"Terdakwa tetap di Wonosari (Lapas Perempuan), saksi-saksi kita periksa secara offline di PN Bantul, terdakwa bisa dengar dan lihat secara online. Dan harapan kami untuk penuntut umum dan PH (penasihat hukum) pakai laptop jangan pakai HP biar kelihatan semuanya," kata Aminuddin.

(rih/rih)