Round-Up

7 Fakta Terbaru Kasus Nani Sianida: Sidang Hybrid, Terancam Hukuman Mati

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 07:46 WIB
Nani Aprilliani Nurjaman, pegirim takjil beracun di Bantul
Nani Aprilliani. (Foto: PIUS ERLANGGA/detikcom)
Bantul -

Kasus takjil sianida yang menewaskan seorang bocah di Bantul dengan terdakwa Nani Aprilliani Nurjaman (25) mulai menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Bantul. Sejumlah fakta pun menyeruak dalam persidangan, apa saja?

1. Didakwa pasal berlapis

Sidang dipimpin oleh hakim ketua Aminuddin berlangsung di ruang sidang I Cakra PN Bantul, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul.

"Pertama pasal 340 KUHP, yang kedua subsider pasal 338, ketiga lebih subsider pasal 353 ayat 3 KUHP, kemudian lebih subsider lagi pasal 351 atau kedua pasal 80 ayat 3 juncto pasal 78 C UU RI No 35 tentang perubahan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau ketiga pasal 359 KUHP," ucap Humas PN Bantul Gatot Raharjo, Kamis (16/9).

2. Terancam hukuman mati

Dengan dakwaan tersebut Nani Aprilliani terancam hukuman maksimal hukuman berupa hukuman mati. Hal itu karena salah satu pasal yang didakwakan adalah Pasal 340 KUHP.

"Terdakwa didakwa kesatu primair Pasal 340 KUHP, subsidiair Pasal 338 KUHP, lebih subsidiair Pasal 353 ayat 3 KUHP, lebih lebih subsidair Pasal 351 ayat 3 KUHP atau kedua Pasal 80 ayat 3 UU perlindungan anak atau ketiga Pasal 359 KUHP," kata Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul Sulisyadi kepada detikcom, Kamis (16/9).

"Pasal yang terberat pasal 340 KUHP dengan ancaman pidananya maksimal hukuman mati, seumur hidup atau pidana penjara maksimal 20 tahun penjara," lanjut Sulisyadi.

3. Penerapan Pasal 340 KUHP dipersoalkan

Ditemui usai persidangan, penasihat hukum Nani, Wanda Satria Atmaja, menjelaskan pihaknya keberatan dengan pengenaan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana kepada kliennya. Pasalnya, apa yang telah direncanakan Nani tidak sesuai dengan kenyataannya.

"Karena saudara Tomi (target penerima kiriman takjil) tidak meninggal dunia. Tapi lebih jelasnya nanti dalam persidangan," katanya.

4. Permohonan sidang offline ditolak

Hakim Ketua Aminuddin, menyatakan sidang ditunda hingga tanggal 27 September dengan agenda pembacaan nota keberatan dari tim penasehat hukum.

Penasihat hukum mengajukan permohonan persidangan secara offline. Namun, dengan alasan masih dalam pelaksanaan PPKM Level 3. Selain itu, Aminuddin menilai persidangan online semata-mata untuk menjamin keselamatan Nani Aprilliani.

"Dan kedua kita ndak tahu keselamatan terdakwa bagaimana. Ketiga mengambil tahanan dari Wonosari apakah harus isolasi-isolasi, jadi itulah jawaban penuntut umum," katanya.

5. Sidang selanjutnya digelar hybrid

Penasihat hukum tetap meminta saksi-saksi dihadirkan secara langsung. Menanggapi hal itu majelis hakim menyetujuinya dengan catatan khusus. Penasihat hukum diminta menggunakan peralatan yang mumpuni dalam sidang secara online agar persidangan online berjalan lancar.

"Terdakwa tetap di Wonosari, saksi-saksi kita periksa secara offline di PN Bantul, terdakwa bisa dengar dan lihat secara online. Dan harapan kami untuk penuntut umum dan PH pakai laptop jangan pakai HP biar kelihatan semuanya," ucapnya.

6. Nani tetap di berada tahanan selama persidangan

Hakim Aminuddin menilai persidangan online semata-mata untuk menjamin keselamatan Nani.

"Dan kedua kita ndak tahu keselamatan terdakwa bagaimana. Ketiga mengambil tahanan dari (Rutan) Wonosari apakah harus isolasi-isolasi, jadi itulah jawaban penuntut umum," katanya.

7.Penasihat hukum diminta memakai laptop

Karena persidangan hybrid dan terdakwa berada di lokasi berbeda maka JPU dan penasihat hukum diminta memastikan bahwa persidangan berjalan lancar dan jelas.

"Terdakwa tetap di (Rutan) Wonosari, saksi-saksi kita periksa secara offline diPN Bantul, terdakwa bisa dengar dan lihat secara online. Dan harapan kami untuk penuntut umum dan penasihat hukum pakai laptop jangan pakai HP biar kelihatan semuanya," ucapnya.

Lihat juga video 'Jerat Pasal Pembunuhan Berencana untuk Nani Peracik Takjil Sianida':

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/mbr)