Santosa Doellah Danar Hadi, Bangsawan Pewaris Tradisi Batik Gaya Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 15:58 WIB
Santosa Doellah, Danar Hadi
Santosa Doellah (Foto: Dok Danar Hadi)
Solo -

Nama pendiri Batik Danar Hadi, Santosa Doellah, yang wafat pada kemarin petang tak akan bisa dilepaskan dari perbatikan nusantara. Siapa sangka pria kelahiran Solo, 7 Desember 1941 itu bisa membangun perusahaan batik raksasa di masa mudanya.

Santosa Doellah merupakan anak dari seorang dokter, yaitu dr Doellah dan pasangannya, Fatimah Wongsodinomo. Darah pembatik tampaknya muncul dari sang ibu yang merupakan keluarga saudagar batik.

Santosa kecil sudah ditinggal ibundanya yang wafat. Dia pun lebih banyak dibesarkan oleh kakeknya, Raden Wongsodinomo, saudagar batik Laweyan terpandang di Solo.

Tumbuh besar di kalangan pembatik, Santosa pun tak bisa lepas dengan bisnis batik. Bahkan selama kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Santosa juga terus berjualan batik.

Tahun 1967, dia menikahi Danarsih Hadiprijono yang masih berkerabat dengannya. Danarsih lahir dari keluarga pembatik yang berasal dari Kauman, Solo, yakni Soemarti dan Soemardi Hadiprijono.

"Eyang Pak Santosa saat itu menghadiahi cucunya yang baru saja menikah. Beliau menerima 29 bal kain mori dan 174 kain batik yang sudah jadi untuk modal usaha," kata Asisten Manajer Museum Batik Danar Hadi, Asti Suryo Astuti, saat dihubungi detikcom, Selasa (3/8/2021).

Kisah di Balik Nama Danar Hadi

Santosa lalu merintis usaha pembuatan batik gaya Solo untuk kalangan kelas menengah-atas. Dia memilih merek dagang Danar Hadi yang diambil dari nama istrinya, Danarsih Hadiprijono. Mereka mengawali usaha dengan 20 orang pembatik tradisional.

"Saat itu sebetulnya situasi bisnis batik baru merangkak kembali setelah peristiwa 1965. Tapi beberapa tahun berjalan, terbukti usaha Danar Hadi berkembang hingga memperkerjakan 1.000 pekerja," ujar dia.

Usaha Danar Hadi pun meluas hingga membuka pabrik kain mori. Dengan demikian, mereka tak lagi bergantung dengan pabrik kain lain.

Selanjutnya: gelar empu hingga diangkat sebagai pangeran...