Viral Biaya Pemakaman di Klaten Hingga Rp 5 Juta, Kades: Sesuai Kebutuhan

Achmad Syauqi - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 10:57 WIB
Ilustrasi Pemakaman COVID-19
Ilustrasi pemakaman prokes Corona. (Ilustrator: Edi Wahyono)
Klaten -

Sebuah pesan berantai menyebar atau viral di grup-grup percakapan warga Klaten, Jateng. Isinya adalah soal biaya pemakaman mencapai Rp 5 juta. Setelah dilakukan pengecekan, proses pemakaman dengan di Desa Jonggrangan, Klaten, memang dikenai biaya sebesar itu.

Pada pesan viral tersebut berisi warga yang mempertanyakan. Pesan bertuliskan kalimat cukup panjang. Dalam pesan WhatsApp itu tertulis:

"... ini warga jonggrangan mengeluh biaya pemakaman .. stlh pemakaman selesai kok ditagih biaya yg besar sm pihak juru makam . ibu nuk/nawir itu 3jt , ibu Hj sulaiman 5jt dan selang 1mnggu pak H. sulaiman meninggl ditagih biaya 5jt juga dan msh bnyk warga lainnya yg meninggal ditagih biaya kisaran segitu. apa benar yg seperti ini pak ? lalu kl mau mengadu kemana karna p nawir sdh sempat keluh kesah ke pihak kelurahan cuman sepertinya pihak kelurahan merasa rikuh utk menangani."

Penelusuran detikcom, beberapa warga membenarkan ada kejadian tersebut. Pasangan suami istri, S (70) warga Dusun Jonggrangan Baru meninggal sekitar dua pekan lalu. "Iya, pasangan suami isteri itu meninggal berurutan. Yang pertama istrinya karena sudah sakit sejak lama," kata warga Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, M, kepada detikcom, Selasa (3/8/2021).

Setelah istrinya, jelas M, seminggu kemudian disusul sang suami. Keduanya tidak dimakamkan protokol COVID tapi pemakaman biasa. "Pemakaman biasa bukan COVID tapi memang menyerahkan Rp 5 juta/ orang. Tapi anehnya itu hanya untuk satu makam dekat masjid baru, makam lain tidak," ujar warga tersebut.

Uang sejumlah itu, sambung M, untuk biaya apa saja warga tidak tahu. Apakah sampai semua kelengkapan juga tidak tahu. "Warga tidak tahu untuk apa saja uangnya. Kalaupun sampai beli peti nya masak semahal itu di dusun," imbuh M.

Kepala Desa Jonggrangan, Sunarno, mengaku sudah melakukan cek ke lapangan. Bersama pengurus makam, dia lalu menemui ahli waris yang disebut dalam pesan berantai tersebut.

"Saya bersama yang ngurusi makam ke rumah almarhum, biar klir semua. Memang ada biaya itu tapi itu untuk semua keperluan," papar Sunarno kepada detikcom.

Menurut Sunarno, uang sebesar Rp 5 juta itu diakui pengurus dan keluarga almarhum. Tapi dana sebesar itu mencakup total biaya.

"Jadi itu dana untuk pembiayaan total pemakaman. Mulai dari dheklit (tenda), kursi, sound, kelengkapan pemakaman sampai pemakaman," terang Sunarno kepada detikcom lewat sambungan ponsel.

Menurut Ismail, anak almarhum S, memang keluarga menyerahkan uang masing-masing Rp 5 juta saat pemakaman ibu dan ayahnya. Uang tersebut diserahkan ke pengurus makam.

"Memang kami menyerahkan Rp 5 juta, jadi total Rp 10 juta saat bapak dan ibu meninggal. Tapi itu tidak masalah, "ungkap Ismail kepada detikcom dihubungi ponselnya.

Uang tersebut, sambung Ismail, untuk mengurus semua perlengkapan dari awal sampai selesai. Keluarga pasrah semua ke petugas.

"Uang Rp 5 juta itu untuk semua keperluan, dari tenda, kursi, sound, keperluan di makam dan lainnya. Jadi semuanya kita pasrahkan," imbuh Ismail.

(mbr/sip)