Sebut Salah Sasaran, Warga di Bantul Soroti Penyaluran BLT

Pradito Rida Pertana - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 15:36 WIB
Ilustrasi Subsidi Bunga
Ilustrasi (Foto: shutterstock)
Bantul -

Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk bulan Mei dan Juni 2021 sebesar Rp 600 ribu kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Bantul disebut salah sasaran. Dinas Sosial akan mengecek laporan tersebut.

Lurah Seloharjo, Kapanewon Pundong, Bantul, Mahardi Badrun, mengakui anaknya tercatat menjadi penerima BLT. Dia pun mempertanyakan hal itu.

"Masak anak Pak Lurah dapat BLT, dan ternyata tak hanya anak saya, anaknya orang mampu yang kuat membayar kuliah juga dapat," kata Badrun kepada wartawan, Sabtu (31/7/2021).

Badrun lantas memberikan BLT yang diterima anaknya itu kepada keluarga lain yang benar-benar tidak mampu.

"Semua itu keinginan anak saya saja (diberikan ke orang lain)," ujarnya.

Badrun pun mempertanyakan kinerja pendamping yang melakukan pendaftaran dan verifikasi daftar penerima BLT. Terlebih jika terdapat kesalahan data sulit untuk mengalihkannya kepada orang yang betul-betul layak sebagai penerima BLT.

"Apalagi data yang salah sasaran tersebut juga tidak bisa diperbaiki atau dialihkan kepada orang yang memang membutuhkan," ujarnya.

Badrun yang juga Sekretaris Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Bantul ini mengungkapkan, penerima BLT yang salah sasaran banyak diketahui ketika pihak kalurahan membagikan surat undangan untuk pencairan BLT di kantor pos. Di mana penerima undangan itu sebagian masih anak-anak, masih sekolah SMP, SMA atau kuliah hingga berasal dari keluarga yang mampu.

"Data KPM BLT diberikan oleh pendamping dan kita (kalurahan) hanya membagikan kepada KPM BLT. Nah, ternyata banyak yang salah sasaran, data yang tidak valid tidak boleh diubah. Semua itu kan bisa memicu gesekan sosial di masyarakat," kata Badrun.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...

Sementara itu, salah satu warga Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Bantul, Murtijo, mengatakan bahwa anaknya mendapatkan BLT dari pemerintah pusat. Padahal anaknya masih berusia belasan tahun, sedangkan dirinya yang kepala keluarga malah tidak terdata sebagai penerima BLT.

"Anak saya usianya masih belasan tahun, belum nikah tapi dapat BLT, ini aneh," kata Murtijo saat dihubungi wartawan, Sabtu (31/7).

"Karena kalau saya dulu terima BLT dari kalurahan, tapi saat ini malah gantian anak saya yang terima BLT dari pemerintah pusat," lanjutnya.

Menurut Murtijo, hal serupa tidak hanya terjadi kepadanya. Mengingat beberapa rekannya juga menyebut jika anak-anak menjadi penerima BLT.

"Dan ternyata selain anak saya banyak juga anak yang lain juga terima BLT. Tapi orang tuanya malah tidak (jadi penerima BLT)," ucapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Bantul, Didik Warsito, mengatakan bahwa pihaknya akan mengecek data penerima BLT. Jika ternyata tidak sesuai, maka pihaknya akan langsung konfirmasikan kepada penerima.

"Nanti kami cek datanya. Jika ada pada daftar penerima BLT, akan kami konfirmasikan bahwa yang bersangkutan tidak layak menerima," kata Didik.

(rih/rih)