BOR COVID-19 di Bantul 93%, Critical Bed Penuh

Pradito Rida Pertana - detikNews
Sabtu, 24 Jul 2021 13:37 WIB
COVID-19 Health insurance concept. Blurring of hand holding pen and Stethoscope on health form. Focus on  COVID-19
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/farosofa)
Bantul -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menyebut tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) isolasi pasien COVID-19 mencapai 93,27%. Sedangkan untuk BOR perawatan intensif atau critical bed sudah penuh.

"Untuk BOR isolasi yang tersedia di rumah sakit rujukan COVID-19 ada 342 dan saat ini terpakai 319. Jadi BOR isolasi 93,27 persen," kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno, saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/7/2021).

Sedangkan untuk BOR perawatan intensif, Sapta menyebut sudah penuh, karena masih banyak pasien COVID-19 yang bergejala sedang hingga berat. "Kalau untuk (tempat tidur) perawatan intensif ada 38 dan terisi semua. Jadi untuk BOR intensif sudah 99,99 persen," ujarnya.

Perlu diketahui, hingga Jumat (23/7) pukul 15.30 WIB kasus positif COVID-19 di Bantul bertambah 887 sehingga total menjadi 36.398 kasus. Selain kasus positif juga ada 444 warga yang dinyatakan sembuh, sehingga total kasus pulih dari COVID-19 di Bantul berjumlah 23.419 orang.

Sedangkan untuk pasien meninggal bertambah 26 orang sehingga total menjadi 853 kasus. Selain itu, pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 yang menjalani isolasi dan perawatan dokter ada 12.126 orang.

Terlepas dari hal tersebut, Dinkes Bantul terus memaksimalkan keberadan oksigen konsentrator di shelter-shelter hingga rumah sakit rujukan COVID-19 untuk mengatasi desaturasi pada pasien COVID-19.

Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja mengatakan, bahwa kebutuhan oksigen medis di Bantul masih tinggi dan pasokan oksigen belum maksimal. Karena itu, Dinkes terus berupaya menambah pasokan oksigen melalui berbagai sumber.

"Kita sudah memiliki 135 unit oksigen konsentrator. Alat ini bisa mengonversi udara menjadi oksigen medis dengan hanya disambungkan ke aliran listrik," ucapnya.

Menurutnya, alat tersebut dapat menggantikan peran tabung oksigen di ruang-ruang isolasi di rumah sakit. Terlebih, alat tersebut memiliki kapasitas 5-10 liter per menit.

"Alat ini telah dioperasionalkan di shelter Kabupaten dan rumah sakit khusus lapangan COVID-19. Selain itu, sebagian lagi kami pinjamkan ke shelter desa (kalurahan)," ucapnya.

"Karena kasus yang paling banyak adalah desaturasi dan itu yang sebagian besar menjadi penyebab kematian (pasien COVID-19 di Bantul)," lanjutnya.

(mbr/mbr)