RS dr Moewardi Solo Pasang Tenda untuk Antrean Pasien Corona

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 15:21 WIB
Tenda-tenda yang dipasang untuk pasien yang antre masuk ruang isolasi COVID-19 di RSUD dr Moewardi Solo, Kamis (24/6/2021).
Tenda-tenda yang dipasang untuk pasien yang antre masuk ruang isolasi COVID-19 di RSUD dr Moewardi Solo, Kamis (24/6/2021). (Foto: dok BPBD Solo)
Solo -

Lonjakan kasus virus Corona atau COVID-19 di Solo dan sekitarnya membuat pasien terpaksa antre masuk ke ruang isolasi di RSUD dr Moewardi (RSDM) Solo. Pihak RSDM pun terpaksa memasang tenda agar pasien tetap nyaman selama antre.

"Tenda kita siapkan untuk antrean pasien COVID-19. Jadi setelah turun dari ambulans, pasien menunggu di bed sambil kita pasang oksigen dan lain-lain," kata Direktur RSDM Solo, Cahyono Hadi, saat dihubungi detikcom, Kamis (24/6/2021).

Dia menyebut jumlah pasien yang dirujuk ke RSDM memang bertambah banyak. Bahkan ruang isolasi berkapasitas 320 di RSDM hampir penuh.

"Ruang isolasi terus kita tambah. Sekarang sudah di angka 320 bed. Kita akan tambah lagi sampai 400 bed," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Siti Wahyuningsih, menambahkan bahwa tenda di RSDM Solo tersebut memang didirikan dengan maksud agar pasien tidak telantar. Sebab saat ini hampir semua rumah sakit penuh.

"Tenda itu kan bukan untuk perawatan tapi antre pasien di IGD. Jangan sampai pasien telantar, kleleran, sehingga difasilitasi ini," kata Ning, sapaannya, saat dijumpai di Balai Kota Solo, Kamis (24/6).

"Karena memang BOR (bed occupancy rate) kita, baik isolasi maupun ICU sudah di atas 90 persen, artinya lampu hampir merah, harus waspada," imbuhnya.

Namun Ning juga mengingatkan seluruh rumah sakit agar saling berkoordinasi terkait ketersediaan bed dan ICU. Dengan koordinasi yang baik, dia berharap antrean pasien bisa diminimalkan.

"Kalau RS mau merujuk itu dikoordinasikan dengan baik. Kasihan juga RS. Kalau waktu tunggu di IGD terlalu lama juga nggak baik. Khawatirnya kalau butuh penanganan cepat tapi terlambat kan bisa menyebabkan kematian," kata dia.

Untuk menangani masalah kapasitas rumah sakit, Ning meminta agar persoalan di hulu harus lebih diutamakan. Masyarakat diminta disiplin protokol kesehatan dan taat aturan pengetatan yang dibuat pemerintah.

"Kalau BOR ini kan masalah hilir. Hulu harus diperkuat, bagaimana protokol kesehatan dikuatkan. Kalau pasien terus bertambah, nakes kelelahan, yang rugi semuanya," imbuhnya.

(rih/sip)