Kasus Perusakan Makam di Solo, 6 Pengasuh Rumah Belajar Dimintai Keterangan

Ari Purnomo - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 19:55 WIB
Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak
Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Kasus perusakan makam yang dilakukan sekitar 10 anak di bawah umur di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Pasarkliwon, Solo kini diusut polisi. Enam pengasuh rumah belajar tempat ke-10 anak itu belajar dimintai keterangan.

"Beberapa langkah sudah kita lakukan, dari sisi penegakan hukum, tim penyidik Polresta terus melakukan penyidikan dan penyelidikan," ujar Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak kepada wartawan di Balai Kota Solo, Selasa (22/6/2021).

"Supaya jelas duduk perkara dan fakta hukum dalam peristiwa tersebut," sambungnya.

6 Pengasuh Rumah Belajar Dimintai Keterangan

Ade menuturkan pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus ini. Salah satunya pengasuh rumah belajar (kuttab) yang berlokasi tak jauh dari makam tempat ke-10 bocah itu belajar.

"Kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, baik saksi korban, maupun pengasuh. Ada 6 pengasuh yang sudah kita mintai keterangan," terang Ade.

Polisi juga berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dalam menangani kasus perusakan makam ini.

"Kami melaksanakan koordinasi dengan Kemenag, kita dorong Kemenag melakukan tim terpadu untuk melakukan asesmen materi yang selama ini diajarkan di sana (rumah belajar). Kita ingin mendudukkan masalah ini sebenar-benarnya," kata Ade.

Dari hasil asesmen, kata Ade, merekomendasikan bahwa 39 siswa yang selama ini belajar di kuttab (rumah belajar) untuk dilakukan konseling.

"Mengembalikan pada ajaran-ajaran yang disyariatkan oleh agama, tidak melenceng bisa menyikapi dengan baik. Agar semuanya bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

Nanti dari hasil asesmen tim Kemenag, lanjut Ade, akan menentukan rekomendasi langkah dan tindak lanjut dari konseling yang akan dilakukan oleh tim Kemenag. Pihaknya juga sudah menanyakan perihal perizinan rumah belajar tersebut.

"Rekomendasi pertama terkait perizinan kuttab tersebut bahwa belum memiliki izin Kemenag," ucapnya.

Selain itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihaknya juga sudah menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat setempat. Mulai dari Ketua RT, lurah, maupun pihak terkait lainnya.

"Kita sudah bicara dan sepakat sama-sama meredam warganya, tidak terprovokasi, tetap tenang dan serahkan semua proses hukum yang sedang berjalan," ucapnya.

Ade berjanji, akan memproses kasus ini secara profesional. Dia tidak ingin ada aksi intoleran yang terjadi di Kota Solo.

"Kita sama-sama bergandengan tangan toleransi harus terus hidup dan ditegakkan di Solo. Tidak boleh ada tindakan intoleran di Solo," tutur Ade.

Tokoh Masyarakat Akan Kerja Bakti Perbaiki Makam

Dia menerangkan rencananya akan ada kerja bakti dan perbaikan makam yang dirusak tersebut. Mulai dari TNI, Polri, maupun tokoh masyarakat dan lintas agama.

"Kami sudah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama di sekitar lokasi bahwa besok akan memperbaiki nisan yang rusak," terangnya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa dari rumah belajar diduga melakukan perusakan makam yang ada di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Perusakan terhadap 12 makam itu diduga dilakukan oleh para paku berjumlah 10 anak di bawah umur.

Anak-anak tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar yang tak jauh dari makam. Gibran pun berencana untuk menutup rumah belajar tersebut karena dinilai mengajarkan intoleransi.

"Tutup aja. Dah nggak bener, sekolahnya, gurunya," kata Gibran saat meninjau lokasi makam, kemarin.

Simak video 'Gibran Geram Belasan Makam di Solo Dirusak, Pelaku di Bawah Umur':

[Gambas:Video 20detik]



(ams/mbr)