Rumah Belajar Bocah Perusak Makam di Solo Ternyata Langgar Prokes

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 19:36 WIB
Gibran Rakabuming Raka saat meninjau lokasi makam yang dirusak.
Gibran Rakabuming Raka saat meninjau lokasi makam yang dirusak. (Foto: Dok. Pemkot Solo)
Solo -

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka akan menutup rumah belajar yang diduga mengajarkan intoleransi hingga melakukan perusakan makam. Gibran juga menyoroti sekolah nonformal itu ternyata juga melanggar protokol kesehatan (prokes).

Gibran pun mempertanyakan bagaimana rumah belajar di Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, tersebut bisa beroperasi dengan leluasa. Padahal sekolah-sekolah masih dalam masa percobaan tatap muka.

"Sekolahnya apa sudah berizin? Kok selama penutupan seperti ini dia bisa PTM (pembelajaran tatap muka). Izinnya seperti apa, yang lain tutup kok bisa PTM. Dari prokesnya aja sudah nggak tepat," kata Gibran usai rapat bersama Satgas COVID-19 di Balai Kota Solo, Selasa (22/6/2021).

Gibran mengaku telah menegur lurah hingga ketua RT setempat atas keberadaan rumah belajar itu. Usai insiden perusakan makam di TPU Cemoro Kembar, kata Gibran, warga sepakat menutup sekolah tersebut.

"Kemarin itu, Pak Lurah saya tegur, Pak RT kok diem saja. Semua harus laporan. Semua warga sepakat tanda tangan untuk tidak setuju ada sekolah di situ. Ditutup," ujarnya.

Gibran pun menyerahkan penanganan kasus perusakan batu nisan pada 12 makam tersebut kepada kepolisian. Namun dia menginginkan agar anak-anak yang belajar di sekolah itu dibina.

"Pokoknya saya kembalikan ke Pak Kapolres. Yang penting ahli waris sudah ketemu, dari pihak sekolah juga sudah bersedia mengganti dengan yang baru," kata Gibran.

"Tapi proses nggak berhenti di situ, anak-anaknya seperti apa ke depan. Kan harus dibina, guru-gurunya harus diproses juga. Yang jelas anak yang kemarin akan kami bina dan diluruskan mindset-nya," imbuhnya.

Seperti diketahui, perusakan dilakukan sekitar 10 anak di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada 16 Juni 2021. Mereka merusak batu nisan pada 12 makam. Anak-anak tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar yang tak jauh dari makam.

(ams/rih)