Urban Legend

Kisah Kiai Melati, Sosok di Balik Cikal Bakal Nama Kota Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 13 Jun 2021 11:24 WIB
Makam Kiai Melati di Sekalekan, Klaten, Minggu (13/6/2021).
Makam Kiai Melati di Sekalekan, Klaten, Minggu (13/6/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Di pusat Kota Klaten, tepatnya di Kampung Sekalekan, Kalurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, Jawa Tengah terdapat kompleks makam kuno. Makam tersebut merupakan makam Kiai Melati sosok penting bagi sejarah Klaten.

Kompleks permakaman yang berada di tengah permukiman padat itu jaraknya hanya sekitar 200 meter dari Alun-alun Kota Klaten. Sedangkan jaraknya dari gedung perkantoran Pemkab Klaten sekitar 500 meter.

Di permakaman tersebut ada puluhan makam tetapi sebagian masih berupa tumpukan batu bata tanpa nisan. Makam batu bata kuno itu ukuran panjangnya sekitar 2,5 meter.

Di sisi barat terdapat tiga kuburan batu bata berjajar yang ditutup kain mori. Ketiga makam itu berada di bawah rimbun pohon asam Jawa ukuran besar.

Ketiga makam yang belum lama dibangunkan pagar oleh Pemkab Klaten itu merupakan makam Kiai Melati, istrinya dan kakaknya Ki Danareksa. Kiai Melati dikenal sebagai sosok cikal bakal (awal mula) Kota Klaten.

"Yang dimakamkan di sini ini kan yang babat alas (membuka wilayah) Kota Klaten, yaitu Eyang Kiai Melati. Setelah itu dimakamkan di sini bersama istri dan kakaknya," ungkap juru kunci makam, Kun Aribowo, kepada detikcom, Sabtu (12/6/2021).

Dituturkan Kun Aribowo, dari sebutan nama Kiai Melati itulah kemudian muncul kata Mlaten sebagai sebutan wilayah tempat tinggal Kiai Melati dan sekitarnya. Kata Mlaten lambat laun berubah menjadi Klaten.

"Jadi Klaten itu awalnya dari kata Melati, menjadi nama wilayah Mlaten lalu jadi Klaten. Terjadi pembaruan lagi jadi kota Klaten," sambung Kun yang menjadi juru kunci meneruskan posisi sang ibu.

Kun Aribowo menceritakan berdasarkan cerita turun temurun, Kiai Melati merupakan sosok orang penting, petugas kerajaan, keturunan Pajang yang hidup di masa Mataram Islam. Kiai Melati konon berdiam di Klaten sekitar tahun 1700-1755 Masehi.

"Jadi sebenarnya kerabat dari Pajang, julukannya Kiai Melati, tidak mau disebut nama aslinya. Tahun 1755 berdiam di sini bersamaan geger keraton Yogya dan Solo saat itu," lanjut Kun Aribowo.

Karena sosoknya dianggap menjadi tokoh penting asal mula nama Klaten, kata Kun, para pejabat Pemkab Klaten rutin berziarah di makam itu setiap tahun. Kunjungan biasanya bersamaan Hari Jadi Klaten.

"Tiap ulang tahun kabupaten para pejabat datang ke sini, itu rutin ziarah. Hari biasa yang warga juga ada yang datang berziarah ke sini," sebut Kun Aribowo.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...

Saksikan juga 'Diawali Getaran, Belasan Sumur di Klaten Mendadak Ambles':

[Gambas:Video 20detik]



Untuk berziarah, kata Kun, tidak ada syarat atau tata cara aneh-aneh. Dia mengungkap biasanya yang dilantunkan para peziarah yakni surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas.

"Yang datang ke sini saya arahkan jangan minta pada yang dikubur tapi mintalah tetap pada Allah. Jika mendoakan yang dimakamkan dapat kebaikan, kabulnya doa itu buah kebaikan mendoakan," sambung Kun.

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pemkab Klaten Yuli Budi Susilowati menambahkan, ada dua versi cerita Kiai Melati menjadi awal nama Klaten. Versi pertama, Kiai Melati menanam bunga melati di sekitar tempat tinggalnya.

"Ada dua versi cerita yang keduanya soal Kiai Melati. Satu kisah menceritakan di sekitar tempat tinggal Kiai Melati itu dijadikan kebun bunga melati, lalu disebut Mlati, Mlaten, kemudian dikenal sebagai Klaten," jelas Yuli pada detikcom.

Cerita versi kedua, jelas Yuli, memang dari nama Kiai Melati sendiri. Dari nama itulah berubah jadi Mlati, Klati dan menjadi Klaten.

"Kisah kedua dari kata Mlati menjadi Klathi dan akhirnya menjadi Klaten. Kiai Mlati ini diyakini sebagai ulama pada masa mataram yang merupakan salah satu penyebar agama Islam," ungkap Yuli.

Penelusuran detikcom pada website Pemkab, klatenkab.go.id dituliskan Kiai Melati dan istrinya merupakan abadi dalem keraton dengan tugas menyerahkan bunga melati (Serat Narpawada 1919: 1921). Guna memenuhi kebutuhan bunga itu keduanya menanam di sawah milik Raden Ayu Mangunkusumo, istri Tumenggung Mangunkusumo, pejabat bupati.

"Kiai dan Nyai Mlati menanami sawah milik Raden Ayu Mangunkusuma, istri Raden Tumenggung Mangunkusuma yang saat itu menjabat sebagai bupati pulisi, yang kemudian dipindah tugaskan istana menjadi Wakil Patih Pringgalaya di Surakarta," tulis situs tersebut.

(sip/sip)