Kemenhub Data Penerbangan Balon Udara Masa Idul Fitri, Ini Hasilnya

Achmad Syauqi - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 19:28 WIB
Sebuah balon udara yang membawa petasan meledak dan jatuh di permukiman padat penduduk Dusun Krapyak, Desa Sabrang, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Satu rumah warga rusak akibat ledakan petasan yang dibawa balon.
Sebuah balon udara yang membawa petasan meledak dan jatuh di permukiman padat penduduk di Klaten, Jawa Tengah, Senin (17/5/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendata insiden penerbangan balon udara yang tak sesuai aturan. Ternyata di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih ditemukan tradisi berbahaya tersebut di masa Lebaran tahun ini.

"Sebelum kami ke sini (Klaten), kami sudah ke Wonosobo dan ada penerbangan balon udara tapi tidak dengan petasan. Ada juga di Ponorogo dengan petasan, dan ada juga di Madiun," ungkap Penyidik Penerbangan Sipil Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Aditya Purna Ramadan, kepada wartawan di Mapolres Klaten saat ekspos penangkapan lima tersangka penerbang balon udara, Selasa (18/5/2021).

Aditya menjelaskan di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur memang masih ada tradisi penerbangan balon udara. Berdasarkan data ada beberapa wilayah.

"Seperti tahun sebelumnya ada beberapa wilayah. Di Jawa Tengah itu yang paling sering di Wonosobo," katanya.

Di Jawa Timur, ungkap Aditya, selain di Kabupaten Ponorogo ada juga di Kabupaten Madiun. Di wilayah Madiun balon udara tersangkut di jaringan listrik.

"Di Madiun, mungkin wartawan juga mengikuti kemarin viral yang nyangkut di jaringan listrik sehingga memadamkan listrik satu kampung. Jadi jika ditanya apakah ada? Itu ada, baik yang dengan petasan atau tidak," ujarnya.

Soal jumlah kasus balon udara tahun ini, pihaknya masih menunggu rekapitulasi akhir. Pihaknya masih memetakan sampai beberapa hari setelah Lebaran nanti.

"Jumlahnya kami masih menunggu rekap akhir. Budaya ini (menerbangkan balon) kami petakan dari hari pertama Idul Fitri sampai kurang lebih ada tujuh minggu setelahnya, seperti di Jawa Tengah kan ada budaya syawal," jelasnya.

"Di Wonosobo itu ada lebih dari lima balon udara yang diamankan. Yang diamankan hanya balon, orangnya masih dalam pendalaman karena balon mendarat tapi tidak diketahui orangnya," imbuhnya.

Menurutnya, dampak penerbangan balon udara yang tidak terkontrol bisa sangat berbahaya. Apalagi jika masuk lintasan penerbangan.

"Sangat membahayakan penerbangan apabila masuk lintasan pesawat udara. Selain bahaya untuk pesawat juga bahaya bagi masyarakat, bisa menimbulkan kerugian harta benda dan juga luka," paparnya.

Pemerintah, sebut Aditya, tidak bisa melarang penerbangan balon udara tetapi balon harus memenuhi persyaratan. Aturan itu adalah Permenhub 40/2018 tentang balon udara untuk keperluan budaya masyarakat.

"Aturan ada di Permenhub 40/2018. Syaratnya balon harus ada tali pengikat, warna mencolok, ketinggian maksimum 150 meter, area harus dari jarak aman 15 kilometer dari bandara dan lainnya," pungkasnya.

(rih/ams)