Perahu Wisata Terbalik di Kedungombo, Pengamat: Pengelola Abai Keselamatan

Ari Purnomo - detikNews
Minggu, 16 Mei 2021 16:57 WIB
Proses pencarian korban perahu terbalik di Waduk Kedungombo, Boyolali, Minggu (16/5/2021).
Proses pencarian korban perahu terbalik di Waduk Kedungombo, Boyolali, Minggu (16/5/2021). Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom
Solo -

Perahu mengangkut 20 orang terbalik di Waduk Kedungombo, Boyolali, dan memakan tujuh korban jiwa serta dua lainnya masih dalam pencarian. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai faktor keselamatan belum menjadi prioritas para pelaku wisata termasuk yang ada di Waduk Kedungombo.

Menurut Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat itu, seharusnya keselamatan menjadi prioritas.

"Sungguh tragis, pengelola pariwisata danau atau waduk tidak memperhatikan faktor keselamatan penumpang. Kewajiban menggunakan baju penolong (life jacket) bagi penumpang perahu belum sepenuhnya ditaati," kata Djoko kepada detikcom di Solo, Minggu (16/5/2021).

Selain itu, kurangnya pengawasan menjadi salah satu penyebabnya. Pariwisata tidak hanya menjadi target pendapatan asli daerah (PAD), akan tetapi perhatian terhadap keselamatan juga tidak boleh dikesampingkan.

Minimnya perhatian terhadap keselamatan, seperti dicontohkan Djoko, sebagaimana kejadian tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun pada 2018. Di mana ada 164 orang dinyatakan hilang karena tenggelamnya kapal tersebut.

"Target pendapatan yang dikejar, namun mengabaikan keselamatan. Apalagi di musim lebaran, yang berwisata akan bertambah tak terkecuali wisata ke danau (waduk)," tuturnya.

Djoko menambahkan, masih banyak ditemukan operasional kapal atau perahu di waduk atau danau yang dikelola perorangan dan kurang memperhatikan aspek keselamatan.

Seolah hal ini dibiarkan oleh Pemda setempat dan terkadang ditarik pungutan atau retribusi. Sama halnya dengan operasional angkot yang manajemen perorangan, pasti kesulitan untuk melakukan pembinaan, pengawasan dan monitoring.

"Namun sudah ada pula yang dikelola secara profesional oleh pihak desa, misalnya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Yang seperti ini akan mudah dilakukan monitoring, pembinaan dan pengawasan," ucapnya.

Adapun, lanjutnya, monitoring dan pengawasan dapat berupa memastikan penumpang yang berada di atas kapal sudah menggunakan baju penolong sebelum kapal diberangkatkan, mengecek data penumpang dalam manifes, dan membantu memberikan informasi tentang kondisi cuaca dan menunda keberangkatan kapal apabila cuaca ekstrem.

"Kegiatan sosialisasi penggunaan penggunaan baju penolong masih diperlukan dan harus tetap dilakukan. Untuk kapal penumpang tradisional, setiap pelayar (termasuk penumpang) wajib menggunakan life jacket selama pelayaran," urainya.

Djoko menambahkan, aturan mengenai sarana dan prasarana transportasi air ada di dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) nomor 25 tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan.

"Penyelenggara sarana dan prasarana serta sumber daya manusia bidang transportasi sungai, danau dan penyeberangan, standar keselamatan merupakan acuan bagi penyelenggara," katanya.

Acuan tersebut, lanjut Djoko, meliputi Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan/atau prasarana, standar operasional prosedur (SOP) dan lingkungan.

Diberitakan sebelumnya, sebuah perahu wisata bermuatan 20 orang terbalik di Waduk Kedungombo, Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5) sekitar pukul 12.00 WIB. Sebanyak 11 orang berhasil diselamatkan dan sembilan orang tenggelam.

Perahu itu terbalik saat mengantarkan para penumpang menuju warung apung di tengah waduk. Ketika hendak sampai warung apung, banyak penumpang yang maju untuk foto selfie. Akibatnya perahu menjorok maju dan air mulai masuk. Perahu pun hilang keseimbangan dan akhirnya terbalik.

Tim SAR gabungan telah menemukan tujuh korban yang semuanya dalam kondisi tewas. Hingga Minggu (16/5) siang, dua korban masih dalam pencarian.

(rih/rih)