Cerita Santri Rembang, Bersepeda 249 Kilometer Mudik ke Pemalang

Robby Bernardi - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 14:28 WIB
Santri Rembang bersepeda ratusan kilomenter pulang ke Pemalang, Selasa (11/5/2021).
Santri Rembang bersepeda ratusan kilomenter pulang ke Pemalang, Selasa (11/5/2021). (Foto: dok pribadi/Irzan Al-Majid)
Pemalang -

Dua orang santri asal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah memilih bersepeda untuk mudik dari pondok pesantren yang ada di Sarang, Rembang. Seperti apa kisah perjalanan mereka menempuh ratusan kilometer untuk pulang itu?

Dua santri itu yakni Irzan Al Majid (21) Husni Amri yang masing-masing merupakan warga Ampelgading dan Comal, Pemalang. Mereka menempuh perjalanan dari Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang sebelum masa pengetatan mudik berlaku.

Irzan merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Kitab dan Tafsir, Sekolah Tinggi Al-Anwar Sarang. Dia mengaku perjalanan pulang bersepeda bukan yang pertama kali untuknya. Mudik tahun lalu juga dia lakoni dengan bersepeda.

Seperti pemudik lainnya, ia juga membawa berbagai barang bawaan. Barang-barang seperti baju dan laptop ia letakkan di dalam kardus yang diikat pada bagian belakang sepeda. Uniknya, di kardus itu ada sebuah tulisan Arab gundul, yang bila diartikan bunyinya "Pulang ke Rumah".

Kecintaannya dengan sepeda ternyata berawal dari sosok KH Abdul Ghofur Maimoen yang juga hobi bersepeda.

"Saya suka sepeda karena terinspirasi dari Kiai Abdul Ghofur Maimoen yang suka sepeda," kata Irzan saat dihubungi detikcom, Selasa (11/5/2021).

"Ya pakai sepeda itu, yang difoto itu. Kalau jarak sekitar 249 kilometer lebih, perjalanan santai, memakan waktu tiga hari," lanjut dia.

Irzan bersama Husni berangkat dari ponpesnya pada Kamis (29/4) dan baru tiba di Pemalang pada Minggu (2/5).

"Tetap puasa. Kalau rute kami paling berat di Pantura wilayah Pati sampai Demak," ungkapnya.

Rute tersebut, katanya, berupa jalan lurus, panas, dan jarang terdapat pohon di sana. Berbeda dengan perjalanan ketika tiba di Alas Roban Batang yang banyak pepohonan tapi kondisi jalan naik turun.

"Di Batang Alas Roban, banyak jalan yang menanjak. Kita istirahat beberapa kali, karena rindang banyak pohon," ucapnya.

Perjalanannya semakin tak terasa melelahkan karena di setiap kotanya dia mengaku bersilaturahmi dengan beberapa teman. Selama tiga hari, dia mengaku hanya menghabiskan yang Rp 100 ribu untuk makan sahur dan buka puasa.

"Kalau menginap ya di rumah teman-teman," ucapnya.

Tak hanya perjalanan mudik, Irzan mengaku punya cita-cita untuk bersepeda keliling Pulau Jawa.

"Nanti Kalau sudah lulus. Akan saya mulai dari Rembang menuju Jawa Timur," tutupnya.

(sip/mbr)