Viral Pesan 29 Warga di Yogya Kena Corona Usai Layat, Pemkot: Hoax!

Heri Susanto - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 20:50 WIB
Mural bertema waspada penyebaran virus Corona hiasi jalan di Solo. Lukisan itu dibuat agar para pengguna jalan mematuhi protokol kesehatan guna cegah COVID-19
Mural bertema waspada penyebaran virus Corona. (Foto: Agung Mardika/detikcom)
Yogyakarta -

Viral di aplikasi pesan berisi informasi soal 29 warga satu RT di Yogyakarta positif virus Corona atau COVID-19 usai layat. Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi memastikan pesan tersebut hoax.

"Mengenai broadcast WA itu sepenuhnya hoax. Tidak benar itu. RT dan RW saja tidak benar," kata Heroe saat dimintai konfirmasi wartawan, Senin (10/5/2021).

Berikut pesan viral tersebut, seperti dilihat detikcom.

"Barusan aku terima info ini dari Jogjes ...
Info penting !!
Di RW 12 RT 57 Suronggaman daerah makam Wirobrajan satu erte 29 orang terpapat covid 19 sehari setelah kerumunan pelayatan.Saat ini di lockdown dan menjadi perhatian nasional.Mohon kita waspada jika akan mengadakan sesuatu yg mengundang massa.
Lokasi sekarang dijaga dari pihak keamanan Polsek dan Koramil setempat..."

Heroe menjelaskan, yang ada adalah kasus Corona di satu keluarga besar yang tinggal berdekatan di RT 56/RW 12 Kalurahan Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Dari hasil PCR sementara, 10 orang dinyatakan positif Corona dan seorang meninggal dunia.

"Kami telah lakukan tracing awal, 11 PCR, 10 (di antaranya) positif, 1 melakukan isolasi mandiri, dan 9 di rumah sakit. Satu negatif," ujar Heroe, saat diwawancarai di Balai Kota Yogyakarta, Senin (10/5).

Heroe yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta ini menyebut dari informasi Satgas PPKM Mikro, klaster keluarga ini diawali dari tidak disiplin protokol kesehatan. Bahkan ada acara buka bersama dengan keluarga besar.

"Sebab ada beberapa rumah yang terinfeksi COVID-19 dari mana mengawalinya kami masih mencari. Tetapi diduga ada beberapa hal yang bisa menjadi pemicu," terang Heroe.

"Ada juga persoalan kepadatan rumah permukiman kawasan ini. Bahkan ada juga yang sempat pijet, atau kerokan satu sama lain, karena mereka keluarga besar atau trah," sambungnya.

Selain itu, temuan satgas di lapangan, kawasan tersebut merupakan permukiman padat penduduk. Selain itu jarak rumah antarwarga juga berdekatan.

"Jadi bisa dibayangkan bahwa kawasan tersebut tentu sangat rawan terjadi sebaran kasus COVID- 19," katanya.

(rih/mbr)