Tambah 9, Kasus Corona dari Klaster Masjid di Bantul Jadi 29 Orang

Pradito Rida Pertana - detikNews
Minggu, 09 Mei 2021 13:48 WIB
Mural bertema waspada penyebaran virus Corona hiasi jalan di Solo. Lukisan itu dibuat agar para pengguna jalan mematuhi protokol kesehatan guna cegah COVID-19
Mural bertema waspada penyebaran virus Corona hiasi jalan di Solo. (Foto: Agung Mardika/detikcom)
Bantul -

Jumlah pasien terkonfirmasi positif virus Corona atau COVID-19 dari klaster masjid di Padukuhan Candi, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Bantul, menjadi 29 orang. Pemkab Bantul menyebut jumlah itu kemungkinan masih bertambah seiring gencarnya tracing.

"Klaster masjid di Pundong tambah 9, sehingga menjadi 29 orang semuanya (yang positif COVID-19)," kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul dr. Sri Wahyu Joko Santoso saat dihubungi wartawan, Minggu (9/5/2021).

Pria yang kerap disapa dr. Oki ini mengaku saat ini pihaknya terus melakukan tracing. Sehingga ada kemungkinan tambahan kasus lagi dari klaster masjid tersebut.

"Tentu masih (kemungkinan jumlah kasus bertambah). Karena sedang tracing lagi dari yang positif baru (9 kasus tambahan klaster masjid Pundong)," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul Joko B Purnomo menyayangkan munculnya klaster baru di Kabupaten Bantul. Terlebih munculnya klaster terjadi saat pelaksanaan PPKM mikro.

"Kami menyayangkan adanya klaster (baru) di Bantul, yang jelas dari kami akan melakukan pengetatan di lingkungan tersebut. Karena dengan adanya klaster ini kami akan melakukan tracing dan treatment supaya tidak meluas," ucapnya.

Pria yang juga menjabat Wakil Bupati Bantul ini menyayangkan munculnya klaster saat PPKM mikro karena berdampak pada pembatasan kegiatan masyarakat, khususnya menjelang lebaran. Merujuk ketentuan PPKM mikro menyebut jika zona oranye dan merah tidak boleh ada menggelar kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan peribadatan.

"Kalau zona hijau dan kuning diperbolehkan (ada kegiatan masyarakat), tetapi harus dengan protokol kesehatan ketat," katanya.

Diberitakan sebelumnya, munculnya klaster masjid itu berawal pada tanggal 21 April lalu. Di mana salah satu jemaah berinisial S mengalami gejala Corona dan kemudian memeriksakan diri ke rumah sakit. Hingga akhirnya ada puluhan orang yang terkonfirmasi positif Corona dari klaster masjid tersebut.

Selanjutnya, zona merah Corona di Bantul...

Tonton juga Video: Pusat Perbelanjaan Penuh, Satgas Khawatir Muncul Klaster COVID-19 Baru

[Gambas:Video 20detik]



Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharja mengatakan bahwa RT yang masuk dalam kategori zona oranye dan merah dilarang melaksanakan salat Id dan halalbihalal. Hal itu merujuk Surat Edaran (SE) Bupati Bantul Nomor 443/01593 tentang Larangan Mudik dan Penegakan Protokol Kesehatan Pada Bulan Ramadan dan Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah.

"Dari PPKM mikro, kalau (RT) masuk zona merah dan oranye dilarang melaksanakan salat Id baik di masjid, lapangan hingga tempat terbuka," ucap Agus saat dihubungi wartawan, Minggu (9/5).

"Termasuk agenda halalbihalal dan kegiatan sejenis juga dilarang kalau ada (RT) yang masuk zona merah dan oranye," ujarnya.

Merujuk data satuan tugas penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul tanggal 8 Mei 2021 pukul 17.00 WIB, ada dua RT di Kalurahan Murtigading yang masuk dalam zona merah. Sementara untuk yang masuk dalam zona oranye ada di lima RT di lima kalurahan yakni, Kalurahan Terong, Muntuk, Triharjo, Srihardono, dan Srigading.

Untuk zona kuning sendiri ada 372 RT yang tersebar di 64 Kalurahan. Sedangkan untuk zona hijau tercatat ada 5.526 RT yang tersebar di 75 Kalurahan. Sehingga total jumlah RT di Kabupaten Bantul ada 5.905.

(rih/rih)