Sirene Bahaya Serangan Belanda Kini Jadi Tanda Buka Puasa di Yogya

Heri Susanto - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 16:33 WIB
Gauk Plengkung Gading Yogyakarta jadi penanda waktu buka puasa, Jumat (23/4/2021).
Gauk Plengkung Gading, Yogyakarta, jadi penanda waktu buka puasa, Jumat (23/4/2021). (Foto: dok Takmir Masjid Nurul Islam Patehan Yogyakarta)
Yogyakarta -

Masih ingat film-film perjuangan, seperti Janur Kuning? Ketika pesawat penjajah Belanda muncul, seketika sirene meraung-raung berbunyi mengabarkan tanda bahaya bagi warga? Sirene ini bernama gauk.

Di Yogyakarta masih ada dua gauk, pertama di lantai dua Pasar Beringharjo dan satu lagi di atas Plengkung Gading. Kedua sirene itu saat masa penjajahan dan perjuangan menjadi penanda kehadiran musuh. Gauk Pasar Beringharjo untuk memberi tahu warga di utara Keraton, gauk di selatan memberi tahu warga di selatan Keraton.

Kini fungsi kedua gauk ini mengalami banyak perubahan. Terutama gauk di atas Plengkung Gading bisa didengarkan setiap hari di bulan Ramadhan saat waktu berbuka tiba.

Ketua RW 05 yang juga Ketua Takmir Masjid Nurul Islam Patehan, Muhammad Sofyan, menjelaskan sirene Plengkung Gading ini sempat rusak setelah terakhir kali dibunyikan pada 1970-an. "Baru pada pertengahan tahun 2013, kami mengusulkan ke pemerintah agar gauk itu diperbaiki. Akhirnya usulan kami dikabulkan," kata Sofyan saat diwawancarai Jumat (23/4/2021).

Setelah selesai diperbaiki, Sofyan meminta izin supaya sirene tersebut kembali difungsikan, terutama sebagai penanda masuknya waktu buka puasa.

"Sudah hampir delapan tahun ini, setiap berbuka terdengar gauknya," terang Sofyan.

Sofyan mengatakan, selama masa perjuangan, sirene itu selalu dibunyikan pada momentum tertentu saja. Yakni setiap 17 Agustus, 1 Maret, 10 November, dan saat puasa. Dengan kembali berfungsinya gauk tersebut, nuansa Ramadhan menjadi kenangan tersendiri bagi warga yang mendengar raungan sirene.

"Radius suaranya cukup jauh. Banyak orang-orang tua yang ngabuburit di sini. Sekadar bernostalgia begitu mendengar suara gauk Plengkung Gading," imbuhnya.

Untuk membunyikannya, warga mengajak peran serta anak-anak muda atau remaja setempat. Dengan suara yang khas dan memberi nilai perjuangan tersebut, maka Ramadhan diharapkan tidak semata urusan ibadah saja. Warga juga diajak untuk turut merasakan warisan budaya serta kembali melihat sejarah perjuangan pada masa lampau.

"Dulu, proklamasi juga bertepatan dengan bulan puasa. Kemudian sekarang, dengan dibunyikannya gauk ini, maka mulai dari anak-anak hingga orang tua bisa merasakan kembali semangat perjuangan kala itu," papar Sofyan.

(sip/ams)