Ancam Lahan Pertanian, Penambangan Pasir Muara Opak Bantul Diprotes

Pradito Rida Pertana - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 13:38 WIB
Warga protes penambangan pasir di Muara Sungai Opak, Bantul, Minggu (18/4/2021),
Warga protes penambangan pasir di Muara Sungai Opak, Bantul, Minggu (18/4/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Warga Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden dan Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprotes penambangan pasir pantai ilegal di muara Sungai Opak. Penambangan pasir ilegal di lokasi itu dikeluhkan merusak lahan pertanian.

Koordinator aksi Setyo mengatakan bahwa penambangan pasir ilegal sebenarnya pernah marak pada tahun 2000-an silam. Namun, dalam kurun 5 tahun terakhir ini penambang ilegal nekat menambang pasir di gumuk pasir pembatas antara laut selatan dengan Laguna Pantai Samas, tepatnya di sisi barat muara Sungai Opak.

"Akibatnya lahan pertanian hilang karena terkena abrasi akibat penambangan pasir," katanya saat ditemui wartawan di lokasi aksi, Minggu (18/4/2021).

Selain itu, kata Setyo, dampak lain dari penambangan pasir ilegal adalah banyak hutan mangrove yang mati akibat terseret arus muara Sungai Opak. Tak hanya itu, penambangan tersebut juga menyebabkan tempat bertelur penyu juga terancam punah.

Oleh sebab itu, dia menilai dampak penambangan pasir pantai dan muara sangat merugikan masyarakat dan merusak lingkungan. Warga juga sepakat menolak secara tegas penambangan pasir di muara Sungai Opak dan penambangan pasir pantai.

"Karena itu kita sepakat untuk menolak penambangan pasir di sini (muara Sungai Opak)," ucapnya.

Ditemui di tempat yang sama, Lurah Srigading Prabowo Suganda menyebut bahwa penambangan pasir ilegal ini berlangsung kucing-kucingan. Ketika ada petugas yang memantau, maka aktivitas menambang pasir berhenti.

"Tapi ketika aparat pergi aktivitas penambangan pasir berlangsung kembali, kan sama saja. Karena itu hari ini kita gelar aksi dan minta kepada aparat penegak hukum untuk menindaknya," katanya.

Sementara itu, Lurah Tirtohargo Sugiyamto mengakui dampak penambangan pasir ilegal di muara Sungai Opak memang sudah sangat merusak lingkungan. Seperti lahan pertanian hilang yang membuat banjir bisa menerjang ratusan hektare sawah di sisi utara Laguna Pantai Samas.

"Kalau dibiarkan kita mau wariskan apa kepada anak cucu kita, para konsumen yang membeli pasir pantai untuk membangun rumah pasti dalam waktu tidak lama bangunan akan hancur karena pasir pantai mengandung garam," ujarnya.

Simak juga 'Tuai Protes, Aktivitas Tambang Pasir di Kaki Galunggung Dihentikan':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/sip)