Ada Ponpes Tunarungu di Sleman, Santrinya Lantunkan Al-Qur'an dengan Isyarat

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 11:34 WIB
Kegiatan di Rumah Tahfidz Tunarungu Darul A’Shom, Kamis (9/4/2021).
Suasana Rumah Tahfidz Tunarungu Darul A'Shom, Sleman. (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Sleman -

Sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Sleman terlihat sama dengan ponpes lainnya. Tapi siapa sangka, ponpes yang berada di Kayen, Condongcatur, Depok, ini mengajarkan tahfiz Al-Qur'an pada para santrinya yang istimewa yakni tunarungu.

Nama ponpes itu yakni Rumah Tahfidz Tunarungu Darul A'Shom. Sesuai namanya, santri yang belajar di ponpes ini semuanya tunarungu.

Adalah Ustaz Abu Kahfi pendiri sekaligus pengasuh di ponpes ini. Pria 47 tahun asal Bandung itu sudah sejak 1,5 tahun yang lalu pindah ke Yogyakarta dan mendirikan pondok pesantren khusus tunarungu.

"Pondok ini berdiri 1,5 tahun yang lalu di Bantul pertamanya, 19 September kami mulai dan kami pindah di Kayen ini baru 2,5 bulan ini," kata Ustaz Abu saat ditemui wartawan, Kamis (9/4/2021).

Ia menceritakan membangun ponpes khusus tunarungu karena resah melihat banyak tunarungu yang awam dengan pengetahuan agama. Bahkan, kata Ustaz Abu, ada tunarungu yang ternyata telah pindah agama tapi tidak diketahui oleh orang di sekitarnya.

Titik balik perjuangannya untuk menggandeng tunarungu berawal dari pertemuan dengan dua orang tunarungu di Jakarta 12 tahun silam. Kedua orang itu kemudian dibawa ke Bandung. Bukan untuk belajar agama, namun lebih kepada belajar saling memahami.

Kegiatan di Rumah Tahfidz Tunarungu Darul A'Shom, Kamis (9/4/2021).Kegiatan di Rumah Tahfidz Tunarungu Darul A'Shom, Kamis (9/4/2021). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom

"Saya pertama kali ketemu 2 tunarungu di Jakarta saya bawa ke Bandung ke pesantren tapi bukan belajar agama dulu, saya belajar isyarat dulu, saya korek, sebulan kemudian baru saya bisa nyambung dan saya ajak pengajian di rumah, akhirnya kemampuan berbahasa saya diakui mereka, saya diundang untuk memimpin doa, berceramah dengan bahasa isyarat," kisahnya.

Ustaz Abu yang juga berkutat dengan bisnisnya di bidang perjalanan haji ini kemudian semakin mendalami bahasa isyarat untuk membaca Al-Qur'an di Madinah. "Saya sering ke sana ngantar haji, saya ketemu di Madinah dan belajar hijaiyah untuk tunarungu," bebernya.

Belasan tahun berjalan dan hanya melakukan pertemuan dengan para tunarungu di rumah dan masjid akhirnya membuat Ustaz Abu pindah ke Yogyakarta. Di Yogya, ia kemudian mendirikan ponpes untuk tunarungu dan saat ini menjadi satu-satunya ponpes yang mengajarkan ilmu agama ke santri dengan menggunakan bahasa isyarat. Termasuk saat mereka melantunkan Al-Qur'an juga menggunakan bahasa isyarat.

"12 tahun berjalan hanya halaqah saja di rumah, saya datang ke masjid. Lama-lama ketika saya di Yogya ini terinspirasi membuat madrasah langsung untuk mereka di usia sekolah. Ponpes tunarungu baru di sini adanya se-Indonesia," ucapnya.

Setelah 1,5 tahun berjalan, Ustaz Abu memiliki 59 orang santri. Bahkan, ada 22 orang yang sudah menunggu untuk bisa masuk ke ponpes miliknya.

"Kalau santrinya itu laki-laki dan perempuan. Asalnya macam-macam, ada dari DIY, Jawa Tengah, Jabodetabek, Kalimantan, Lampung. Yang termuda 6,5 tahun dan tertua 28 tahun," bebernya.

Di ponpes ini, para santri bukan hanya dibekali pendidikan agama. Ada juga pendidikan formal yang diajarkan. Sehingga ketika lulus dari pondok, mereka juga bisa mengantongi ijazah.

"Selain mengaji di tiga waktu, ada kajian hadis, mereka dibekali pendidikan formal dan diharapkan bisa mengantongi ijazah hingga paket C," katanya.

Metode yang digunakan untuk mengajarkan hafalan Al-Qur'an bagi tunarungu juga dikembangkan oleh Ustaz Abu. Prosesnya bertahap. Mulai dari mengenalkan huruf hijaiyah hingga menyusun huruf hijaiyah.

"Di sini kami mengajarkan untuk hafalan Al-Qur'an, karena untuk menghafal Al-Qur'an untuk anak yang baru mengenal isyarat atau belum bisa berbahasa isyarat pun mereka langsung bisa menghafal Al-Qur'an," ucapnya.

"Kita ajarkan bagaimana mengenal huruf hijaiyah, kita kenalkan bagaimana membaca, mengenalkan huruf, menguraikan huruf, menyambungkan huruf, baru menghafal Al-Qur'an. Baru ketika bahasanya meningkat baru diajarkan keilmuannya, fiqihnya," ungkapnya.

Selanjutnya: Tantangan mengajarkan hafalan Al-Qur'an pada santri tunarungu...

Tonton juga Video: Dua Santri di Cianjur Diduga Dianiaya Oknum Guru Ponpes

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2