Urban Legend

Cerita Rumah Dinamit Peninggalan Belanda di Puncak Bukit Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 09:14 WIB
Rumah dinamit di puncak bukit Patrum, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (10/4/2021).
Rumah dinamit di puncak bukit Patrum, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (10/4/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Sebuah bangunan menyerupai rumah berdiri di puncak bukit kapur Dusun Mojo Pereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten. Posisinya terpencil di pucuk bukit dan tak ada akses jalan, listrik, air dan jauh dari permukiman.

Jika dilihat dari kejauhan, sepintas rumah tersebut seperti kepala kura-kura atau siput. Sebab di sebelah selatan masih ada bukit kapur cukup luas yang membentuk seperti cangkang. Kalau dilihat lebih dekat, bukit setinggi sekitar 100 meter itu lebih mirip karang laut. Batu kapur tempat rumah berdiri tampak berlumut.

Ternyata, rumah itu dijuluki rumah dinamit atau untuk menyimpan bahan peledak untuk pertambangan kapur.

"Dulu rumah itu untuk menyimpan bahan peledak dan buktinya dinamakan Bukit Patrum, Patrum kan artinya peledak. Bukitnya itu dulu ditambang dengan peledak," ungkap tokoh masyarakat Desa Krakitan, Sunu (72) Hardiyanto, saat ditemui detikcom di rumahnya, Sabtu (10/4/2021).

Sunu menceritakan, pertambangan batu kapur di desanya itu menurut cerita turun-temurun sudah berlangsung sejak zaman Belanda. Batu kapur dari lokasi digunakan untuk proses pembuatan gula di PG Gondang Baru yang didirikan sekitar tahun 1860.

"Batu kapur digunakan untuk membuat gula pasir di PG Gondang. Karena dulu untuk menggali manual sulit digunakanlah bahan peledak atau Patrum dan kapurnya dibawa ke pabrik," tutur Sunu.

Rumah dinamit di puncak bukit Patrum, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (10/4/2021).Rumah dinamit di puncak bukit Patrum, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (10/4/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Sunu mengungkapkan, saat dirinya masih kecil, jumlah rumah penyimpanan bahan peledak di atas bukit itu ada dua. Bahkan dulu di atas bukit itu tanahnya lapang.

"Dulu di atas bukit itu bisa buat bermain bola karena lapang. Dulu ada dua rumah tapi sekitar tahun 1966-an mulai ditambang manual dengan linggis sehingga bukit terus berkurang dan rumah satunya ikut hilang," papar Sunu.

Menurut Sunu, penambangan manual yang tidak terkontrol menyebabkan penambangan tidak teratur sehingga menyisakan rumah di atas bukit tapi terpisah dari bukit lain. Lokasi pun jadi curam dan cekungan.

"Jadi bukitnya cekung terpisah. Rumah itu bukan rumah hantu tapi penyimpan bahan peledak, ukurannya 2x2 meter, bangunannya tembok dan dibangun zaman Belanda," kata Sunu.

Belanda, lanjut Sunu, juga membangun jalur rel kereta kecil (lori) di sekitar bukit. Jalur rel itu sampai ke PG Gondang untuk mengangkut batu kapur.

"Dulu ada rel lori, sekitar tahun 1980-an rel sudah tidak digunakan dan sekarang hilang. Jadi ada sejarahnya tapi mulai ditambang tahun berapa tidak ada catatan," imbuhnya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...

Simak juga 'Unik! Desa Jonggrangan di Klaten Puluhan Warganya Orang Kembar':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2