Seratusan Situs Cagar Budaya Tersebar di Klaten, Ini Kondisinya Terkini

Achmad Syauqi - detikNews
Sabtu, 06 Mar 2021 23:44 WIB
Ratusan batu di situs candi Dompoyongan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, dipindahkan ke pekarangan warga. Hal itu dilakukan guna mencegah batu-batu candi rusak.
Ratusan batu di situs candi Dompoyongan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, dipindahkan ke pekarangan warga. Hal itu dilakukan guna mencegah batu-batu candi rusak. (Foto: Achmad Syauqi/Detikcom)
Klaten -

Seratusan situs cagar budaya tersebar di berbagai wilayah di Klaten. Situs cagar budaya peninggalan masa Kerajaan Hindu-Buddha itu sebagian terawat dan sebagian lagi baru sebatas didata.

"Total pendataan terakhir ada 132 titik lokasi. Mayoritas yang ditemukan adalah batu-batu, paling banyak berupa batu Yoni dan yang temuan baru sebatas kita data," kata Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pemkab Klaten, Yuli Budi Susilowati saat dihubungi detikcom, Sabtu (6/3/2021).

Yuli menyebut situs-situs cagar budaya itu ada yang memiliki struktur bangunan. Data terakhir, ada tiga situs di Klaten yang memiliki struktur bangunan candi.

"Situs yang ada strukturnya terakhir ada tiga lokasi, yaitu Candi Jaden, Candi Montelan di Kecamatan Jatinom dan Candi Dompyongan, Kecamatan Jogonalan," terang Yuli.

Yuli mengatakan pihaknya juga mendapatkan temua baru di Desa Gempol dan Soropaten di Kecamatan Karanganom. Namun, temuan yang dilaporkan itu berupa batu bata tanpa batuan candi.

"Iya di wilayah Klaten masih banyak karena dulu pusat kerajaan di Kecamatan Prambanan sehingga desanya berada di sekitarnya. Kita kerja sama dengan masyarakat untuk menginformasikan adanya situs atau benda cagar budaya," terang Yuli.

Yuli menyebut dari 132 situs yang terdata itu tidak semuanya merupakan peninggalan era Mataram Kuno yang berupa candi dan bebatuan. Namun ada juga era Mataram Islam dan zaman kolonialisme.

"Masa Mataram Islam dan kolonialisme juga ada tapi tidak banyak dan mayoritas masa Mataram Kuno atau Hindu-Buddha. Sebetulnya kami mimpi untuk pelestarian," tutur Yuli.

Yuli berharap pihaknya bisa membuat museum khusus benda-benda cagar budaya. Nantinya museum itu bakal digunakan untuk menyimpan artefak, khususnya yang berupa batuan. Namun, usulan ini terkendala pandemi virus Corona atua COVID-19.

"Kita sudah buat usulan museum tapi belum disetujui. Kita juga merencanakan papanisasi di lokasi situs tapi karena kondisi anggaran mungkin nanti tidak semua diberi," terang Yuli.

Yuli menyebut pengadaan museum mendesak. Sebab ada warga yang enggan memelihara benda cagar budaya tersebut,

"Kami akan ambil benda yang masyarakat sudah tidak mau merawat tapi kita tidak ada tempatnya. Kita juga takut kalau ada kolekdol (kolektor penjual) ," jelas Yuli.

Pihaknya saat ini masih menunggu Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan Balai Arkeologi untuk memberikan perlindungan terhadap situs yang ditemukan warga. Termasuk soal rencana ekskavasi dua situs.

"Untuk dua situs yang ada struktur candi di Kecamatan Jatinom tidak memungkinkan diekskavasi sebab rapuh. Kita menunggu rekomendasi perlindungannya seperti apa, termasuk situs lain," terang Yuli.

Terpisah, Analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung mengatakan persebaran situs peninggalan Mataram Kuno, paling banyak ditemukan di wilayah Klaten Utara. Peninggalan itu berupa candi dan yoni.

"Terbanyak di Utara, Kecamatan Jatinom, Tulung, Ngawen, Karangnongko dan lainnya. Di seputaran Gunung," jelas Tanjung pada detikcom.

Selengkapnya soal batuan temuan BPCB...

Selanjutnya
Halaman
1 2