Terpopuler Sepekan di Jateng

Asa Siswa SMK di Klaten Kehilangan Tangan Saat PKL untuk Bisa Kuliah

Achmad Syauqi - detikNews
Sabtu, 06 Mar 2021 10:32 WIB
Alfian bersama ayahnya dijenguk Kades Sawit, Maryadi, Klaten, Selasa (2/3/2021).
Alfian bersama ayahnya dijenguk Kades Sawit, Maryadi, Klaten, Selasa (2/3/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Kisah pilu Alfian Fahrul Nabila (18) siswa kelas XI salah satu SMK di Klaten yang kedua tangannya diamputasi viral di media sosial. Kedua tangannya diamputasi setelah tersengat aliran listrik saat mengikuti praktik kerja lapangan (PKL).

Anak pertama pasangan Wagimin (55) dan Tri Ismani (54) itu berharap tetap bisa melanjutkan kuliah. Dia ingin agar mendapatkan tangan robotik yang membantunya untuk beraktivitas. Saat ditemui di rumahnya di Dusun Dalem, Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Alfian menceritakan kecelakaan tragis yang dialaminya pada 9 Maret 2020 lalu itu.

"Kejadiannya saat itu tanggal 9 Maret 2020 sekitar pukul 16.30 WIB saya sedang PKL masang jaringan WiFi di Kecamatan Wedi. Saya mau naikkan pipa tiang antena tapi tidak kuat dan ambruk kena kabel listrik," cerita Alfian saat ditemui detikcom, Selasa (2/3/2021).

Alfian mengatakan saat itu dia membawa tiang besi sepanjang 4 meter naik ke atas genting rumah warga. Sementara lima temannya berada di bawah. Hingga akhirnya dia tersengat listrik dan jatuh dari ketinggian.

"Saya tidak kuat nahan pipa 4 meter itu karena saya naik sendiri dan teman saya di bawah. Saya tersengat dan tersangkut di genting, tak sadarkan diri," sambung Alfian.

Begitu sadar, papar Alfian, dirinya sudah di rumah sakit. "Saat naik ke genting sendiri saya juga seperti tidak sadar kalau ada kabel listrik. Sampai akhirnya satu per satu tangan diamputasi dokter," ungkap Alfian.

Alfian pun mengaku sempat putus asa karena kedua tangannya diamputasi. Namun, setelah setahun berlalu kini semangatnya sudah pulih dan bisa menerima keadaan.

"Sekarang sudah biasa. Teman-teman sekolah juga banyak main ke sini belajar dan bertanya soal pelajaran," kata Alfian yang masih tercatat siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) itu.

Keterbatasan fisik tak membuat Alfian patah arang. Dia pun tetap semangat belajar bahkan sukses meraih ranking kedua di kelasnya. Dia bercita-cita memiliki tangan robotik dan bisa menjadi pakar komputer.

"Ya pengin punya tangan yang robotik. Biar bisa tetap beraktivitas," harap Alfian.

Paman sekaligus juru bicara keluarga, Purwanto menambahkan saat itu pihak keluarga sudah mengusahakan kedua tangan Alfian tetap bisa dipertahankan. Namun, setelah dua pekan dirawat di rumah sakit pihak keluarga harus menelan pil pahit.

Selengkapnya harapan Alfian untuk memiliki tangan robotik dan melanjutkan kuliah...

Simak juga 'Jurus Ganjar Pranowo Cegah Corona B117 Masuk Jateng':

[Gambas:Video 20detik]



Pilihan untuk mengamputasi kedua tangan Alfian menjadi pilihan pahit karena pertimbangan kesehatan siswa SMK itu. Amputasi pertama dilakukan pada tangan kanan Alfian, dua pekan berselang tangan kirinya juga harus diamputasi.

"Dua minggu setelah tangan kanan, tangan kiri mulai menghitam, membusuk. Oleh dokter disarankan juga diamputasi sebab jika tidak bisa meracuni jaringan di dalam tubuh," papar Purwanto.

Purwanto menyebut keponakannya itu kini sudah bisa beradaptasi dengan kondisinya dan menggunakan jemari kakinya untuk beraktivitas. Harapan untuk memiliki tangan robotik pun didapat Alfian dari berbagai referensi yang menyebut harganya mencapai Rp 400 juta.

"Mulai belajar adaptasi, apa-apa sekarang dengan jari kaki. Termasuk menggunakan HP sampai laptop bisa dengan kaki," imbuh Purwanto.

Selain ingin punya tangan robotik, lanjut Purwanto, Alfian ingin tetap meneruskan sekolahnya ke perguruan tinggi. Bahkan sudah mendaftar penerimaan mahasiswa baru di dua perguruan tinggi.

"Sudah mendaftar kuliah tinggal nunggu seleksi. Satu di UNY jurusan pendidikan teknik informatika dan teknik komputer Undip, sejak dulu ingin jadi ahli komputer," ujar Pungkas Purwanto.

Sementara itu, Kepala Desa Sawit, Maryadi, mengatakan keluarga Alfian masuk sebagai penerima bantuan sosial pemerintah pusat karena tergolong keluarga tidak mampu.

"Jadi keluarga masuk kategori tidak mampu, ada stikernya di rumah. Dia (Alfian) tidak berharap uang tapi harapannya kalau ada lembaga yang membantu membuatkan tangan robotik itu yang diharapkan," kata Maryadi.

(ams/ams)