Menilik Monumen yang Dulunya Tempat Singgah Tentara Pengusir Penjajah di Kudus

Dian Utoro Aji - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 13:57 WIB
Monumen Markas Komando Daerah Muria yang berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/2/2021).
Monumen Markas Komando Daerah Muria yang berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/2/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Di Kudus, Jawa Tengah terdapat sebuah monumen saksi perjuangan tentara di wilayah Gunung Muria melawan penjajah. Nama monumen Markas Komando Daerah Muria yang masih ada hingga sekarang. Lalu seperti apa ceritanya?

Monumen Markas Komando Daerah Muria bersejarah ini berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe. Letaknya di lereng Gunung Muria. Lokasinya dari pusat Kota Kudus berjarak sekitar 22 kilometer, jika ditempuh berkendara sepeda motor sekitar 36 menit.

Monumen berada di tengah permukiman warga Desa Glagah Kulon. Saat akan memasuki monumen, di bagian depannya terdapat sebuah gapura masuk. Di tengah monumen pun tampak ada tiang bendera merah putih.

Monumen Markas Komando Daerah Muria memiliki corak khas. Bentuk monumen berupa bentuk Gunung Muria dengan relief kepala macan putih.

Monumen Markas Komando Daerah Muria yang berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/2/2021).Monumen Markas Komando Daerah Muria yang berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/2/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Selanjutnya ada senjata perang berupa pedang dan tombak dari bambu. Sedangkan di sisi kiri terdapat relief warga dan prajurit tentara. Terlihat seorang wanita dan pria tengah memberikan minuman kepada dua tentara yang mengenakan pakaian berwarna hijau.

Berikutnya sisi kiri terdapat gambaran hamparan luas suasana wilayah Gunung Muria yang masih terlihat hijau.

Penjaga Monumen Markas Komando Daerah Muria, Sipat (69), mengatakan dulunya di kawasan monumen merupakan sebuah rumah milik Mbah Modirono Sarbo bayan Desa Glagah Kulon. Rumah milik Sarbo itu digunakan untuk singgah para tentara saat bergerilya melawan pasukan Belanda.

"Dulunya kan digunakan untuk markas, terus akhirnya sudah tenteram membuat monumen itu. Pada tahun 1972 (monumen ini) baru dibuat," kata Sipat saat ditemui detikcom di lokasi, Sabtu (27/2/2021).

Monumen Markas Komando Daerah Muria yang berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/2/2021).Monumen Markas Komando Daerah Muria yang berada di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/2/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Sipat menceritakan pada tahun 1948 wilayah Glagah Kulon digunakan tempat bersinggah para tentara Indonesia yang ada di kawasan Muria. Para tentara itu dinamakan tentang macan putih.

"Sekitar 1948 istilahnya ada Belanda. Ini rumahnya Mbah Sarbo digunakan tempat singgah," ujarnya.

"Lalu di sini ada nama pasukan macan putih. Itu ceritanya zaman dulu, Pak Kamituo Bungkus itu asli Cranggan, itu ada penjajah (pasukan Belanda) di wilayah sini. Kemudian beliau ini seperti dirasuki macan putih seperti itu. Terus ke sini bilang sama Komandannya. Dan katanya ternyata ada macan putih beneran itu," sambungnya.

Selanjutnya, bagaimana kondisi monumen itu saat ini?

Selanjutnya
Halaman
1 2