Banjir di Pekalongan Belum Surut, Bupati: Pompa Rusak-Penurunan Muka Tanah

Robby Bernardi - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 20:10 WIB
Potret banji di Kabupaten Pekalongan, Rabu (24/2/2021)
Potret banji di Kabupaten Pekalongan, Rabu (24/2/2021). Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan -

Banjir yang melanda Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, belum juga surut. Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengungkap penyebab banjir belum surut karena pompa rusak hingga penurunan permukaan tanah.

"Ada pompa yang rusak masih diperbaiki, sehingga air yang disedot kurang maksimal. Karena skema pembangunan tanggul penahan rob belum selesai, Pemkab terpaksa membobol pintu sungai Mrican yang ada di kecamatan Wonokerto," kata Asip usai meninjau lokasi banjir di Rumah Pompa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Pekalongan, Rabu (24/2/2021).

Asip menyebut dua dari tiga pompa yang ada rusak sehingga penyedotan genangan air tidak maksimal. Sehingga upaya untuk mengatasi genangan dengan membuka paksa tanggul.

"Alhamdulillah debit air bisa turun sampai hampir 25 cm, semoga besok sudah surut," jelasnya.

Namun, Asip mengaku khawatir dengan dijebolnya tanggul itu tak ada penahan limpasan air laut atau rob. Pihaknya berupaya segera menutup kembali pintu tanggul yang dijebol tersebut.

"Karena pintu ini nanti akan berfungsi untuk menahan ketika nanti air rob sudah mulai tinggi tentu kita harus tutup kembali," kata Asip.

Selain faktor pompa rusak, Asip menyebut penurunan permukaan tanah juga menjadi kendala banjir surut. Terlebih di wilayah Pekalongan sisi utara.

"Jadi kita awalnya konsentrasi mengatasi persoalan rob yang terjadi sejak tahun 2008. Secara teori, terjadi land subsidence yang bisa sampai 15-20 cm per tahun," terangnya.

"Ini harus diwaspadai, dan pemkab sudah menganjurkan agar moratorium kaitan dengan air tanah segera dilakukan. Karena izinnya ada di provinsi," sambung Asip.

Dia menyebut penurunan permukaan tanah ini yang menjadi faktor penyebab genangan lekas surut. Pihaknya pun berupaya menggandeng pihak terkait untuk mencari solusi dari masalah ini.

"Pemkab kerja sama dengan pemprov, pemerintah pusat, bahkan dengan lembaga dewan air Belanda, Rotterdam University juga melakukan kajian sekaligus upaya-upaya untuk mengatasi land subsidence, rob, dan yang baru adalah banjir," jelas Asip.

"Banjir ini tidak seperti rob yang tahunan, banjir terjadi berkala ketika curah hujan ekstrem seperti sekarang ini," tambahnya.

Sementara itu, menurut Asip masih banyak warga yang bertahan di pengungsian akibat banjir di Pekalongan.

"Jumlah pengungsi yang ada di wilayah banjir, ternyata masih cukup banyak dengan jumlah ada sekitar 3 ribu lebih. Alhamdulillah kondisinya baik dan dengan persediaan logistik yang masih terpenuhi," kata Asip.

Selengkapnya data BPBD Kabupaten Pekalongan soal pantauan titik-titik banjir...

Simak video 'Banjir di Pekalongan Makin Tinggi, Nyaris 1.000 Orang Ngungsi':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2