Menengok Jejak Dr Sardjito Rawat Pejuang Terluka di Rumah Tua Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 21:52 WIB
Rumah tua di Klaten yang dulunya jadi RS Darurat Dr Sardjito saat merawat pejuang luka-luka
Rumah tua di Klaten yang dulunya jadi RS Darurat Dr Sardjito saat merawat pejuang luka-luka (Foto: Acmad Syauqi/detikcom )

Sriyem mengenang saksi sejarah soal aktivitas rumah sakit darurat itu kini sudah tiada. Terakhir adalah Sumirin yang merupakan kerabat Notodarsono tapi kin sudah meninggal.

"Pak Mirin tahu sebab saat itu sudah dewasa tapi sudah meninggal beberapa tahun lalu. Yang sekarang tinggal cerita saja," papar Sriyem.

Terpisah, Kades Krakitan, Kecamatan Bayat, Nurdi menyebut cerita soal rumah Notodarsono digunakan untuk merawat para pejuang sudah beredar lama. Bahkan, rumah tua itu beberapa kali ditinjau tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

"Iya cerita rumah merawat pejuang itu sudah lama. Pernah ada tim UGM ke sini, sampai memutar film tentang Dr Sardjito itu di lokasi," jelas Nurdin pada detikcom.

Rumah tua di Klaten yang dulunya jadi RS Darurat Dr Sardjito saat merawat pejuang luka-lukaRumah tua di Klaten yang dulunya jadi RS Darurat Dr Sardjito saat merawat pejuang luka-luka Foto: Acmad Syauqi/detikcom

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pemkab Klaten, Yuli Budi Susilowati menjelaskan sejarah rumah tersebut sudah masuk data dinas. Sejarah rumah tua itu diinventarisir tahun 2019.

"Sudah diinventarisir 2019. Rumah itu pernah menjadi rumah sakit darurat yang digunakan Dr. Sardjito pada saat perang kemerdekaan. Bangunan itu pada masanya dianggap sebagai yang terbaik dan pantas dijadikan rumah sakit darurat," jelas Yuli pada detikcom.

Yuli mengatakan dari penuturan Sumirin semasa hidup, Klaten dulunya menjadi pusat militer para pejuang. Sehingga tidak heran kawasan itu kerap menjadi sasaran patroli lawan.

"Dr. Sadjito dibantu dua perawat yaitu Trisono dan Giyanto dan rumah itu dijuluki RS Geger (perang). Cerita pelaku sejarah lainnya, pejuang dan warga banyak yang luka karena peluru pesawat sekutu," terang Yuli.


(ams/ams)