Banjir Berwarna Hijau di Pekalongan Ternyata Biasa Terjadi di Tambak-Sawah

Robby Bernardi - detikNews
Sabtu, 23 Jan 2021 20:50 WIB
Air banjir berwarna hijau di  Dusun Clumprit, Desa Degayu, Kota Pekalongan, Selasa (19/1/2021)
Air banjir berwarna hijau di Pekalongan (Foto: dok Agus Setiono, warga Dusun Clumprit, Desa Degayu, Pekalongan)
Pekalongan - Foto-foto banjir beberapa daerah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah bikin heboh karena berwarna hijau. Ternyata air banjir berwarna hijau ini biasa terjadi di areal tambak atau persawahan.

"Bagi masyarakat Pekalongan mata lele ini, sudah tidak asing lagi. Banjir warna hijau, karena air membawa tumbuhan bernama mata lele," kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Pekalongan, Dimas Arga Yudha saat dihubungi detikcom, Sabtu (23/1/2021).

"Biasanya mata lele ini berada di tambak-tambak ataupun bekas sawah dan cekungan yang ada genangan airnya," jelasnya.

Mata lele merupakan nama lokal azolla atau duckweed. Banjir berwarna hijau ini tidak hanya terjadi di Dusun Clumprit, Desa Degayu, Pekalongan, Selasa (19/1) lalu.

"Sebenarnya tidak saja di Clumprit ya. Mata lele ini ditemukan juga di wilayah Kelurahan Panjang, Pabean, dan Bandengan. Mata lele ini cepat tumbuhnya," terang Dimas.

Dia menyebut perkembangan tanaman mata lele ini memang pesat. Dia mencontohkan dalam waktu sehari hingga dua hari saja, tanaman ini bisa berkembang berkali-kali lipat.

"Mata lele ini kerap diburu warga, sebagai olahan makanan untuk ternak. Warga biasa mencarinya," ucapnya.

Sementara itu, salah seorang warga Dusun Clumprit, Desa Degayu, Kota Pekalongan, Sinta Maelia menyebut fenomena air banjir berwarna hijau ini baru kali ini masuk ke halaman rumahnya.

"Tidak sampai masuk rumah. hanya di halaman saja. warga sini sudah paham itu mata lele. Banyak yang memanfaatkan untuk campuran pakan ternak juga," cerita Sinta.

Dia menjelaskan banjir yang merendam daerahnya pada Selasa (19/1) lalu merupakan rob. Curah hujan yang tinggi diduga menjadi penyebab banjir rob itu.

"Siangnya surut, nanti malam datang lagi. Kalau air rob tidak tinggi hanya wilayah dataran rendah yang sampai bawah lutut," ucap Sinta. (ams/ams)