BPPTKG: Rekahan di Tebing Kawah Gunung Merapi Semakin Melebar

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 19:58 WIB
Status Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam kondisi Siaga. Begini kondisi terkini Gunung Merapi.
Gunung Merapi, Jumat (4/12/2020). Foto: Agus Septiawan/detikcom
Yogyakarta -

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat ada penurunan kegempaan di Gunung Merapi selama periode 27 November-3 Desember 2020. Namun, pada periode itu, teramati juga rekahan di dalam dan tebing kawah semakin melebar.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan berdasarkan data seismik sepekan terakhir kegempaan Merapi tercatat 236 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2.128 kali gempa Fase Banyak (MP), 3 kali gempa Low Frequency (LF), 289 kali gempa Guguran (RF), 330 kali gempa Hembusan (DG) dan 11 kali gempa Tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu. Namun, secara umum masih fluktuatif tapi fluktuatifnya ini masih tinggi," kata Hanik melalui zoom meeting, Jumat (4/12/2020).

Sebagai perbandingan, dalam periode sebelumnya, kegempaan Merapi tercatat sebanyak 277 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2.464 kali gempa Fase Banyak (MP), 4 kali gempa Low Frekuensi (LF), 340 kali gempa Guguran (RF), 541 kali gempa Hembusan (DG), dan 9 kali gempa Tektonik (TT).

Penurunan data, lanjut Hanik, juga terjadi pada laju deformasi Merapi. Pada periode 20-26 November tercatat laju deformasi yang diukur dengan electronic distance measurement (EDM) dari PGM Babadan, Magelang total 78 cm.

"Laju deformasi menunjukkan sedikit penurunan. Pada pekan ini EDM total sebesar 74 cm sementara pekan lalu sebesar 78 cm," jelasnya.

Kendati ada penurunan data, migrasi magma ke permukaan terus berlangsung. Hal itu dibuktikan dengan adanya perubahan morfologi di puncak karena banyaknya guguran yang disebabkan dari desakan magma.

"Dari sektor barat laut profil topografi puncak terutama pada sekitar Lava1948 dan Lava1888 sedikit berubah karena aktivitas guguran yang terjadi," jelasnya.

Sementara berdasarkan pengamatan satelit terjadi pengangkatan di permukaan kawah. Hanik juga menjelaskan jika terbentuk rekahan di dalam dan tebing kawah. Rekahan itu banyak berada di sisi barat-barat laut.

"Rekahan di dalam dan tebing kawah semakin melebar. Saat ini terjadi perubahan morfologi akibat intensifnya guguran dan arah guguran dominan ke arah Kali Senowo dan Lamat (barat) dan Kali Gendol (tenggara)," sebutnya.

"Rekahan di tebing dan kawah itu ada di sektor barat-barat laut," sambungnya.

Hanik menegaskan berdasarkan data, aktivitas Merapi masih tinggi walaupun cenderung fluktuatif. Oleh karena itu, BPPTKG masih mempertahankan status Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awan panas sejauh maksimal 5 km.

"Status Merapi Siaga. Sementara untuk ancaman bahaya utama berada di Kali Gendol atau pada bukaan kawah. Namun, tidak menutup kemungkinan potensi bahaya ke arah barat-barat laut," pungkasnya.

(rih/ams)