Klaster Tilik Kembali Muncul di Boyolali

Ragil Ajiyanto - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 16:24 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S Survivalina, Selasa (24/11/2020).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ratri S Survivalina. (Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom)
Boyolali -

Kasus baru virus Corona atau COVID-19 di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah bertambah hingga lebih dari 200 selama enam hari hingga kemarin. Selain klaster keluarga, tilik menjadi salah satu klaster yang masih aktif di Boyolali saat ini.

"Update COVID-19 di Kabupaten Boyolali mulai tanggal 17 sampai 23 November (2020) ini, ada penambahan kasus sebanyak 245," ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ratri S Survivalina atau Lina ditemui sebelum membuka acara penerimaan Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT) di Hotel Ataya, Ngemplak, Boyolali, Selasa (24/11/2020).

Terkait dengan klaster, lanjut Lina, saat ini di Boyolali masih ada 24 klaster yang masih aktif yang tersebar di 14 kecamatan. Klaster terbanyak masih didominasi klaster keluarga.

Dikemukakan dia, ada sejumlah klaster baru di Boyolali. Selain klaster keluarga, juga ada klaster tempat kerja dan muncul klaster tilik. Klaster tempat kerja antara lain sebuah perusahaan tekstil dan sebuah rumah sakit. Di perusahaan tekstil itu teridentifikasi ada 47 kasus yang berdomisili di Boyolali.

"Klaster baru ini ada beberapa, misalnya klaster keluarga ini ada dari musuk dan Siswodupuran Boyolali. Kemudian karena besuk, tilikan ini juga ada dari Desa Rembun Kecamatan Nogosari dan Desa Cluntang, musuk," lanjutnya.

"Kalau totalnya di tempat kerja itu lebih dari itu, tetapi sebagian tidak di Boyolali, sehingga tidak tercatat sebagai data Boyolali," terang Lina.

Selanjutnya tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit itu terdeteksi ada 10 orang yang terkonfirmasi positif. Kemudian untuk klaster tilik yang baru yakni dari Desa Cluntang, Kecamatan Musuk ada 24 kasus.

"Ini kami mohon supaya protokol kesehatan di rumah maupun di tempat kerja lebih diperhatikan lagi. Selain itu juga kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu proaktif melaksanakan testing secara mandiri. Jadi bukan hanya testing karena proses tracing kontak erat, tetapi juga ada testing secara mandiri," imbau Lina.

"Ternyata beberapa kasus itu muncul karena ada kesadaran masyarakat, merasa ada gejala ke arah COVID. Kemudian proaktif mengikuti testing, ternyata akhirnya positif dan ditemukan segera kontak eratnya dan segera bisa dilakukan karantina untuk memutus rantai penularan COVID," pungkas dia.

Berikutnya, rincian 245 kasus baru Corona di Boyolali...

Selanjutnya
Halaman
1 2