Round-Up

5 Tokoh Agama-Akademisi Berpendapat soal 'Mendewakan' Keturunan Nabi

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 09:29 WIB
ilustrasi nabi muhammad
Ilustrasi (Foto: iStock)
4. M Syukur Wahyunudin (Ketua FPI Solo)
"Pernyataan beliau betul, tapi FPI tidak sampai ke situ. Sehormat-hormatnya, secinta-cintanya kita kepada beliau (HRS) kan tidak sampai mengkultuskan," kata Ketua FPI Solo, M Syukur Wahyunudin, saat dihubungi detikcom, Senin (23/11).

"Kita ahlussunah wal jamaah meyakini hanya Nabi yang maksum. Selain Nabi bisa salah," katanya.

5. M Najib Azca (sosiolog UGM)
"Itu ajakan untuk bersikap kritis bahwa kita tidak boleh terperdaya simbol semata-mata," kata Dosen Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Najib Azca saat dihubungi detikcom, Senin (23/11).

"Saya kira dia melakukan refleksi historis lah, refleksi terhadap pengalaman sejarah kita," ucapnya.

"Saya kira ya memang sebenarnya tidak perlu ada, katakanlah kultus atau pendewa-dewaan istilahnya terhadap seseorang hanya karena faktor keturunan. Hanya karena keturunan Nabi maka pasti hebat seolah-olah, itu kesalahan dan itu tidak perlu seperti itu," katanya.

Halaman

(bai/mbr)