Pakar UGM Ungkap Bahayanya Topi Awan Bagi Penerbangan, Ini Penjelasannya

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 12:02 WIB
Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani bicara soal awan tsunami, Selasa (11/8/2020).
Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani. (dok Humas UGM)
Yogyakarta -

Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Emilya Nurjani menjelaskan awan yang bentuknya banyak disebut seperti topi hingga ada yang menyebutkan seperti ufo di sejumlah gunung di Jawa kemarin merupakan jenis Lenticularis. Kemunculan awan tersebut tidak terkait dengan pertanda akan terjadinya bencana tapi bisa berbahaya bagi aktivitas penerbangan.

"Awan ini berbahaya utamanya bagi pesawat yang terbang di sekitarnya," terangnya dalam keterangan tertulis yang dikirim Humas UGM kepada wartawan, Jumat (6/11/2020).

Emilya mengatakan awan lenticularis merupakan fenomena biasa. Awan ini sering muncul atau terbentuk di daerah pegunungan/gunung maupun perbukitan/bukit.

Pembentukan awan ini, kata Emilya, dipengaruhi oleh faktor orografis/elevasi. Oleh sebab itu awan ini sering terbentuk di daerah pegunungan/gunung ataupun perbukitan/bukit.

Dia menjelaskan, awan biasanya sering terbentuk di sisi pegunungan yang berangin atau sisi hadap lereng (windward), tetapi awan lenticularis terbentuk di sisi bawah angin atau sisi belakang lereng (leeward). Dengan begitu saat udara lembab naik ke sisi atas gunung/bukit mengalami pendinginan dan pemadatan sehingga menghasilkan awan. Namun, di sisi yang berlawanan dengan angin, udara menurun dan menghangat sehingga terjadi penguapan.

"Dilihat dari permukaan, awan terlihat tidak bergerak saat udara mengalir dan lapisan pembentuk awan terlalu kering sehingga lenticular akan terbentuk satu di atas yang lain. Bahkan terkadang hal ini meluas ke lapisan stratosfer dan terlihat seperti UFO," paparnya.

Dosen Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geogragi UGM ini mengatakan bentuk gelombang di atas gunung dan bagian bawah berbentuk pusaran air yang berputar-putar. Bagian yang naik dari bentuk pusaran air ini cukup dingin untuk menghasilkan awan rotor.

Udara di awan rotor ini sangat bergejolak dan berbahaya bagi pesawat yang terbang di sekitarnya. Kondisi berbahaya juga berlaku untuk penerbangan di sisi leeward gunung/bukit karena ada gerakan ke bawah yang cukup kuat.

Selain itu, lanjut Emilya, kemunculan awan lenticularis ini biasanya akan menimbulkan hujan dengan intensitas sedang.

"Hujan, tetapi intensitas tidak tinggi karena pada dasarnya uap air sudah jatuh sebagai hujan di sisi windward," terangnya.

(sip/sip)