Cantik! Fenomena Topi Awan Terjadi di Gunung Lawu Pagi Tadi

Andika Tarmy - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 12:10 WIB
Topi awan di puncak Lawu, 5/11/2020
Topi awan di Gunung Lawu, Karanganyar, Kamis (5/11/2020). (Foto: dok Rika Verry Kurniawan/warga)
Karanganyar -

Fenomena awan berbentuk seperti topi terjadi di sekitar Gunung Lawu, terlihat dari kawasan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Fenomena unik awan berbentuk lingkaran ini tertangkap kamera dan mengundang perhatian warganet.

Dalam foto yang ramai beredar di media sosial tersebut, terdapat dua buah awan berbentuk lingkaran. Satu awan berada tepat di atas Gunung Lawu, sementara satu lagi berukuran lebih besar berada di sebelah selatan gunung.

Fenomena awan topi di Gunung Lawu ini diposting berbagai platform media sosial, di antaranya akun instagram energisolo. Akun ini merepost beberapa foto awan topi milik akun @rikaveryykurniawan dengan menyertakan keterangan 'Awan di Lawu, Tawangmangu-Sarangan pagi ini'.

Hingga pukul 11.00 WIB, unggahan tersebut disukai sebanyak 5.417 kali dan menuai 84 komentar netizen.

"MasyaAllah indahnya," ujar akun mirawati.spd.

"Apik nek didelok ko ngisor, nek pas neng gunung badai membahayakan kui mind (bagus kalau dilihat dari bawah, kalau pas di gunung badai membahayakan itu admin)," kata akun panjoelprasetyo.

Saat dimintai konfirmasi detikcom, Rika Verry Kurniawan membenarkan foto tersebut adalah hasil jepretannya. Rika mengaku tertarik melihat fenomena tersebut dan mengabadikannya dalam perjalanan dari rumahnya di Magetan Jawa Timur menuju tempat kerjanya di Solo.

"Saya ambil dalam perjalanan ke kantor dari Magetan ke Solo. Saya tiap minggu dua kali pasti pulang, ini kok agak ada yang beda. Jadi saya ambil fotonya," ujar Rika, dihubungi detikcom, Kamis (5/11/2020).

Rika mengambil gambar sejak dari Magetan hingga wilayah Gondosuli, Tawangmangu. Saat itu cuacanya cerah sehingga hasil jepretan Rika jelas menangkap fenomena unik ini.

"Cuaca cerah, saya ambil pertama kali jam 5.40 pagi tadi. Dari Magetan, Sarangan hingga Gondosuli. Yang di Gondusuli itu saya pas di bawah awannya," lanjutnya.

Rika mengaku tertarik karena fenomena awan topi ini beda dengan yang biasa dilihat. Kalau biasanya hanya satu di atas gunung, kali ini ada dua awan topi dengan ukuran yang sangat besar.

"Tertarik karena bentuknya nggak biasa. Yang biasa yang (awan) caping gunung yang tepat di atas gunung. Ini tadi ada satu awan lagi di sebelah selatannya," paparnya.

Relawan komunitas Anak Gunung Lawu, Budi Santoso, membenarkan fenomena tersebut. Menurutnya, awan tersebut adalah awan Lenticular yang terjadi karena pusaran angin di wilayah ketinggian.

"Awan Lentikular. Itu biasanya di atas, memutari gunung biasanya," terangnya.

Awan Lentikular, lanjut Budi, menandakan terjadi angin kencang yang berputar-putar di wilayah gunung. Fenomena ini sudah biasa terjadi meskipun frekuensinya jarang.

"Jarang, biasanya durasinya lama. Karena terjadi di ketinggian dua ribu meter ke atas, biasanya gunung-gunung lain seperti Merapi dan Merbabu terjadi fenomena yang sama," imbuhnya.

Budi menampik jika fenomena awan Lentikular ini merupakan pertanda akan terjadi sesuatu. Menurutnya, hal ini murni fenomena alam.

"Yang jelas anginnya kencang di atas. Kita sudah kasih edukasi kepada pendaki yang naik, dalam arti kondisi cuaca seperti ini, jadi jangan terlalu dipaksakan," kata Budi.

Topi awan di puncak Lawu, 5/11/2020Topi awan di Gunung Lawu, 5/11/2020 (Foto: dok. warga/rika verry kurniawan)

Menurutnya, mayoritas para pendaki sudah memiliki wawasan sehingga mereka sedikit banyak sudah paham apa yang harus dilakukan ketika menemui kondisi ekstrem. Namun begitu, pihak relawan AGL tetap mewanti-wanti para pendaki agar meningkatkan kewaspadaan.

"Kebetulan hari ini sepi, sampai siang ini baru ada enam orang. Tapi tetap kita kasih imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan," pungkasnya.

(sip/mbr)